Tampilkan postingan dengan label Tazkiyatun Nufus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tazkiyatun Nufus. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Desember 2011

TUJUH RINTANGAN SYAITHAN

TUJUH RINTANGAN SYAITHAN *)
Disusun oleh Muslim Atsari

Sadarkah kita, bahwa setiap diri kita ini memiliki musuh besar? Musuh yang sangat berkeinginan untuk menyesatkan dan mencelakakan kita! Musuh yang memiliki berbagai tipu-daya dan cara untuk mencapai tujuannya! Musuh yang kita tidak dapat melihatnya, sedangkan dia melihat kita! Musuh besar itu adalah syaithan.
Maka hamba yang ingin selamat perlu mengetahui berbagai rintangan syaithan sehingga selamat dari jerat dan perangkapnya.
Sesungguhnya syaithan berkehendak mengalahkan manusia dengan tujuh rintangan, sebagian rintangan ini lebih berat dari yang lainnya. Tujuh rintangan ini adalah:

1.Rintangan kekafiran.
Yaitu kekafiran kepada Allah, agama-Nya, pertemuan dengan-Nya, sifat-sifat kesempurnaan-Nya dan kepada apa yang diberitakan oleh para rasul dari-Nya. Jika syaithan dapat mengalahkan manusia pada rintangan ini, maka padamlah api permusuhannya, dan dia dapat beristirahat! Karena jika manusia sudah kafir, maka dia akan menemani syaithan di dalam neraka jahannam, kekal selamanya-lamanya. Allah Ta’ala berfirman:
(Artinya):
(Bujukan orang-orang munafik kepada orang-orang kafir itu adalah) seperti (bujukan) syaitan ketika ia berkata pada manusia: "Kafirlah kamu", maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata: "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam". Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya.Demikianlah balasan orang-orang yang zalim. (QS. 59:16-17)

Jika manusia dapat melewati rintangan ini dengan selamat, karena membawa cahaya keimanan, syaithanpun memburunya dengan tahapan selanjutnya, yaitu:

2.Rintangan bid’ah.
Imam Asy-Syatibi t berkata: “Bid’ah adalah suatu jalan di dalam agama yang dibuat-buat, menyerupai syari’at, meniti jalan tersebut dengan niat berlebihan-lebihan di dalam beribadah kepada Allah Ta’ala”. Bid’ah ini dapat berupa aqidah (keyakinan) yang menyelisihi kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Atau berupa peribadatan yang tidak diidzinkan oleh Allah. Atau berupa perkara lainnya yang termasuk cakupan agama.
Telah masyhur perkataan imam Sufyan Ats-Tsauri tentang hal ini:
اَلْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيْسَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ, الْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا وَ الْبِدْعَةُ لاَ يُتَابُ مِنْهَا
Bid’ah itu lebih disukai oleh Iblis daripada maksiat. Terkadang orang bertobat dari maksiat, tetapi (sulit diharapkan) orang bertobat dari bid’ah. (Riwayat Al-Lalikai, Al-Baghawi, Ibnul Jauzi, dan lainnya)

Jika manusia selamat dari rintangan ini, dengan berpegang teguh dengan cahaya Sunnah Nabi serta meniti jalan Salaf Shalih, syaithanpun memburunya dengan tahapan berikutnya, yaitu:

3.Rintangan dosa-dosa besar.
Tahapan selanjutnya adalah syaithan berusaha menjerumuskan manusia ke dalam dosa-dosa besar, perbuatan-perbuatan keji dan kemungkaran. Allah berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَن يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. (QS. 24:21)

Jika hamba dapat melewati rintangan ini dengan penjagaan Allah dan dengan taubat nasuha (yang sebenarnya), maka syaithan akan memburunya dengan:

4.Rintangan dosa-dosa kecil.
Syaithan akan membisiki manusia dengan kata-kata: “Dosa-dosa kecil tidak masalah bagimu, selama engkau menjahui dosa-dosa besar!” atau dengan kalimat: “Tidakkah engkau tahu, dosa-dosa kecil itu otomatis terhapus dengan ditinggalkannya dosa-dosa besar, atau terhapus dengan perbuatan-perbuatan ketaatan!”
Syaithan akan selalu menjadikan orang tersebut meremehkan dosa-dosa kecil, sehingga dia akan terus-menerus melakukannya. Rasulullah telah memperingatkan umatnya tentang dosa-dosa kecil dengan sabdanya:
إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ
Jauhilah dos-dosa yang dianggap kecil, karena dosa-dosa itu akan berhimpun pada seseorang sehingga akan membinasakannya. (HR. Ahmad; Ar-Ruyani; Al-Baihaqi. Lihat Silsilah Ash-Shahihah no: 389, karya Al-Albani)

Jika seseorang selamat dari rintangan ini, karena selalu mewaspadai dirinya dan selalu bertaubat, maka syaithan akan mengejarnya dengan:

5.Rintangan perkara-perkara yang mubah.
Syaithan akan berusaha menyibukkan manusia melakukan perbuatan-perbuatan mubah, sehingga lalai untuk memperbanyak ketaatan, dan tidak bersungguh-sungguh mencari bekal untuk akhiratnya.
Allah Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلآ أَوْلاَدُكُمْ عَن ذِكْرِ اللهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS. 63:9)

Alangkah banyaknya manusia di zaman ini yang telah tersungkur dengan rintangan syaithan ini! Mereka terjatuh ke dalam jurang kelalaian dan tidak pernah terlintas untuk menyiapkan bekal yang cukup untuk akhiratnya!!
Berapa banyak manusia sibuk berolah-raga, lalai kalau malakul maut segera menjemputnya?
Berapa banyak manusia tenggelam dalam kesenian dan kesenangan, lupa bekal untuk akhiratnya? Berapa banyak manusia larut dalam hiburan, sehingga menyia-nyiakan waktunya?
Berapa banyak manusia menekuni ilmu dunia semata, mengabaikan ilmu agamanya?
Jika manusia selamat dari rintangan ini, maka syaithan akan mengejarnya dengan:

6.Rintangan amalan-amalan ketaatan yang tidak utama.
Syaithan menjadikan manusia sibuk dengan amalan-amalan yang tidak utama, sehingga tidak mendapatkan yang utama. Sibuk dengan amalan yang dicintai Allah, sehingga tidak mendapatkan yang lebih dicintai. Sibuk dengan amalan yang sedikit pahalanya, sehingga tidak mendapatkan yang lebih besar pahalanya.
Padahal jika manusia menyadari umurnya yang pendek, sedangkan dia membutuhkan bekal yang cukup untuk perjalanannya yang panjang menuju keridhaan Allah Ta’ala, maka dia akan memilih amalan-amalan yang bernilai tinggi di sisi Alloh.
Akan tetapi siapakah yang dapat mencapai tingkatan ini? Mereka jumlahnya sedikit saja, karena mayoritas manusia telah dikalahkan oleh syaithan pada rintangan-rintangan sebelumnya! Sehingga tidaklah melewati rintangan ini kecuali orang yang memiliki keyakinan, keikhlasan, ilmu, dan mendapatkan taufiq dari Allah Ta’ala. Pada tahapan ini, syaithan-pun melancarkan jurusnya yang terakhir:

7.Rintangan gangguan.
Rintangan terakhir ini pasti akan menimpa manusia yang telah melewati semua rintangan di atas, seandainya ada seseorang yang selamat, pastilah para rasul dan nabi Allah selamat darinya.
Pada fase ini syaithan akan mengerahkan bala-tentaranya, agar memberikan berbagai gangguan dengan tangan, lesan, dan hati. Gangguan tersebut akan menimpa hamba sesuai dengan kadar keimanan dan kebaikannya. Semakin tinggi kedudukannya, semakin besar dan berat cobaan yang dia terima.
Rasulullah besabda:
عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً قَالَ الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ
Dari Mush’ab bin Sa’d, dari bapaknya, dia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat musibahnya? Beliau menjawab: “Para nabi, kemudian yang lebih sebanding (dengan para nabi), kemudian yang lebih sebanding (dengan mereka). (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dll)
Inilah sedikit keterangan tentang syaithan dan tipu-dayanya, semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamiin. Wallahul Musta’an.

*)[Tujuh rintangan syaithon ini asalnya dari penjelasan imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah di dalam kitab Madarijus Salikin 1/185-18188, penerbit: Darul Hadits Kairo, th: 1424 H / 2003 M)
Baca Selengkapnya...

PENYAKIT SYUBHAT DAN SYAHWAT

PENYAKIT SYUBHAT DAN SYAHWAT
Disusun oleh Muslim Atsari

Syaithan merupakan musuh nyata manusia. Dia selalu berusaha menjerumuskan manusia kedalam jurang kekafiran, kesesatan dan kemaksiatan. Di dalam menjalankan aksinya itu syaithan memiliki dua senjata ampuh yang telah banyak memakan korban. Dua senjata itu adalah syubhat dan syahwat. Dua penyakit yang menyerang hati manusia dan merusakkan perilakunya.
Syubhat artinya samar, kabur, atau tidak jelas. Penyakit syubhat yang menimpa hati seseorang akan merusakkan ilmu dan keyakinannya. Sehingga jadilah “perkara ma’ruf menjadi samar dengan kemungkaran, maka orang tersebut tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari kemungkaran. Bahkan kemungkinan penyakit ini menguasainya sampai dia menyakini yang ma’ruf sebagai kemungkaran, yang mungkar sebagai yang ma’ruf, yang sunnah sebagai bid’ah, yang bid’ah sebagai sunnah, al-haq sebagai kebatilan, dan yang batil sebagai al-haq”. (Tazkiyatun Nufus, hal: 31, DR. Ahmad Farid)
Penyakit syubhat ini misalnya: keraguan, kemunafikan, bid’ah, kekafiran, dan kesesatan lainnya.

Syahwat artinya selera, nafsu, keinginan, atau kecintaan. Sedangkan fitnah syahwat (penyakit mengikuti syahwat) maksudnya adalah mengikuti apa-apa yang disenangi oleh hati/nafsu yang keluar dari batasan syari’at.
Fitnah syahwat ini akan menyebabkan kerusakan niat, kehendak, dan perbuatan orang yang tertimpa penyakit ini.
Penyakit syahwat ini misalnya: rakus terhadap harta, tamak terhadap kekuasaan, ingin populer, mencari pujian, suka perkara-perkara keji, zina, dan berbagai kemaksiatan lainnya.

KEKHAWATIRAN RASULULLAH TERHADAP PENYAKIT SYUBHAT DAN SYAHWAT
Rasulullah n telah mengkhawatirkan fitnah (kesesatan) syahwat dan fitnah syubhat terhadap umatnya. Beliau n bersabda:
فَوَاللَّهِ لَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنْ أَخَشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ
Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kamu. Tetapi aku khawatir atas kamu jika dunia dihamparkan atas kamu sebagaimana telah dihamparkan atas orang-orang sebelum kamu, kemudian kamu akan saling berlomba (meraih dunia) sebagaimana mereka saling berlomba (meraih dunia), kemudian dunia itu akan membinasakan kamu, sebagaimana telah membinasakan mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan lainnya dari Amr bin Auf Al-Anshari)

Dalam hadits lain beliau bersabda:
إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَ فُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ
Sesungguhnya di antara yang aku takutkan atas kamu adalah syahwat mengikuti nafsu pada perut kamu dan pada kemaluan kamu serta fitnah-fitnah yang menyesatkan. (HR. Ahmad dari Abu Barzah Al-Aslami. Dishahihkan oleh Syeikh Badrul Badr di dalam ta’liq Kasyful Kurbah, hal: 21)

Syahwat mengikuti nafsu perut dan kemaluan adalah fitnah syahwat, sedangkan fitnah-fitnah yang menyesatkan adalah fitnah syubhat.
Kedua fitnah ini sesungguhnya juga telah menimpa orang-orang zaman dahulu dan telah membinasakan mereka. Allah berfirman;
كَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنكُمْ قُوَّةً وَأَكْثَرَ أَمْوَالاً وَأَوْلاَدًا فَاسْتَمْتَعُوا بِخَلاَقِهِمْ فَاسْتَمْتَعْتُم بِخَلاَقِكُمْ كَمَا اسْتَمْتَعَ الَّذِينَ مِن قَبْلِكُم بِخَلاَقِهِمْ وَخُضْتُمْ كَالَّذِي خَاضُوا أَوْلَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
(Keadaan kamu hai orang-oang munafik dan musyirikin adalah) seperti keadaan orang-orang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta benda dan anak-anaknya daripada kamu. Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kamu telah nikmati bagianmu sebagaimana orang-orang yang sebelummu menikmati bagian mereka, dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya. Mereka itu, amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat; dan mereka itulah orang-orang yang merugi. (QS. 9:69)

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata: “Allah menggabungkan antara “menikmati bagian” dengan “mempercakapkan (hal yang batil)”, karena kerusakan agama itu kemungkinan:
• terjadi pada keyakinan yang batil dan mempercakapkannya (hal yang batil)
• atau terjadi pada amalan yang menyelisihi i’tiqad yang haq.
Yang pertama adalah bid’ah-bid’ah dan semacamnya. Yang kedua adalah amalan-amalan yang fasiq. Yang pertama dari sisi syubhat-syubhat. Yang kedua dari sisi syahwat-syahwat.
Oleh karena itulah Salafush Shalih dahulu menyatakan: “Waspadalah kamu dari dua jenis manusia: Pengikut hawa-nafsu yang telah disesatkan oleh hawa-nafsunya (inilah fitnah syubhat-pen), pemburu dunia yang telah dibutakan oleh dunianya (ini fitnah syahwat-pen)”.
Mereka juga menyatakan: “Waspadailah kesesatan orang ‘alim (ahli ilmu) yang durhaka (karena terkena fitnah syahwat-pen), dan kesesatan ‘abid (ahli ibadah) yang bodoh (karena terkena fitnah syubhat-pen), karena kesesatan keduanya itu merupakan kesesatan tiap-tiap orang yang tersesat.”
Maka yang itu (orang ‘alim yang durhaka) menyerupai (orang-orang Yahudi) yang dimurkai, orang-orang yang mengetahui al-haq, tetapi tidak mengikutinya. Sedangkan yang ini (‘abid yang bodoh) menyerupai (orang-orang Nashara) yang sesat, orang-orang yang beramal tanpa ilmu.” (Iqtidha’ Shirathil Mustaqim, hal: 55, tahqiq Syeikh Khalid Abdul Lathif As-Sab’ Al-‘Alami)
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah t juga berkata: “Firman Allah k : “kamu telah nikmati bagianmu” mengisyaratkan pada mengikuti hawa-nafsu syahwat, ini merupakan penyakit para pelaku maksiat. Dan firman Allah: “Dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya” mengisyaratkan pada mengikuti syubhat-syubhat, ini merupakan penyakit para pelaku bid’ah, pengikut hawa-nafsu, dan perdebatan-perdebatan. Dan sangat sering keduanya (penyakit itu) berkumpul. Maka jarang engkau dapati orang yang aqidahnya ada kerusakan, kecuali hal itu nampak pada lahiriyahnya.” (Iqtidha’ Shirathil Mustaqim, hal: 55)

BENTENG FITNAH SYUBHAT DAN SYAHWAT
Imam Ibnul Qayyim t berkata: “Asal seluruh fitnah (kesesatan) hanyalah dari sebab: mendahulukan fikiran terhadap syara’ (agama) dan mendahulukan hawa-nafsu terhadap akal.Yang pertama adalah asal fitnah syubhat, yang kedua adalah asal fitnah syahwat. Fitnah syubhat ditolak dengan keyakinan, adapun fitnah syahwat ditolak dengan kesabaran. Oleh karena itulah Alloh menjadikan kepemimpinan agama tergantung dengan dua perkara ini. Allah k berfirman:
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِئَايَاتِنَا يُوقِنُونَ
Dan Kami jadikan di antara mereka (Bani Israil) itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar.Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. (QS. 32:24)

Ini menunjukkan bahwa dengan kesabaran dan keyakinan akan dapat diraih kepemimpinan dalam agama.
Alloh juga menggabungkan dua hal itu di dalam firmanNya:
وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ {3}
Dan mereka saling menasehati supaya mentaati kebenaran, dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS. 103:3)

Maka mereka saling menasehati supaya mentaati kebenaran yang menolak syubhat-syubhat, dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran yang menghentikan syahwat-syahwat.
Alloh juga menggabungkan antara keduanya di dalam firmanNya:
وَاذْكُرْ عِبَادَنَآ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُوْلِى اْلأَيْدِي وَاْلأَبْصَارِ
Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishak dan Ya'qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. (QS. 38:45)

Maka dengan kesempurnaan akal dan kesabaran, fitnah syahwat akan ditolak. Dan dengan kesempurnaan ilmu dan keyakinan, fitnah syubhat akan ditolak. Wallahul Musta’an. )Kitab: Mawaridul Amaan, hal: 414-415]
Maka hendaklah setiap kita berusaha meraih ilmu yang haq
Baca Selengkapnya...

NIKMAT DAN BENCANA LIDAH

NIKMAT DAN BENCANA LIDAH
Disusun oleh Abu Isma'il Muslim Al-Atsari

NIKMAT LIDAH
Sesungguhnya Allah Ta'ala telah menganugerahkan kepada manusia nikmat yang sangat banyak dan besar. Di antara nikmat Allah yang terbesar, setelah nikmat iman dan islam, adalah nikmat berbicara dengan lidah, nikmat kemampuan menjelaskan isi hati dan kehendak. Allah Ta'ala berfirman:
Allah yang Maha pemurah. Yang telah mengajarkan Al Quran. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara. (QS. Ar-Rahmaan/55: 1-4)

Penciptaan manusia dan pengajaran berbicara kepadanya benar-benar merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah yang besar. Oleh karena itulah Allah juga menyebutkan nikmatNya tentang penciptaan alat-alat berbicara bagi manusia. Allah berfirman:
Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. (QS. Al-Balad/90: 8-9) *)*)[Lihat Tafsir Adh-waaul Bayaan, surat Ar-Rahmaan/55: 3-4, karya syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi]

LIDAH, SENJATA BERMATA DUA
Namun kita perlu mengetahui, bahwa lidah yang merupakan alat berbicara ini seperti senjata yang bermata dua. Yaitu dapat digunakan di dalam ketaatan kepada Allah, juga dapat digunakan di dalam ketaatan kepada syaithan.
Jika hamba mempergunakannya untuk membaca Al-Qur'an, berdzikir, berdoa kepada Allah, amar ma'ruf, nahi munkar, atau lainnya yang berupa ketaatan kepada Allah, maka inilah yang dituntut dari seorang mukmin, dan ini merupakan bentuk syukur kepada Allah terhadap nikmat lidah.
Sebaliknya, jika seseorang mempergunakannya untuk berdoa kepada selain Allah, berdusta, bersaksi palsu, ghibah, namimah, memecah belah umat Islam, merusak kehormatan seorang muslim, bernyanyi dengan lagu-lagu maksiat, atau lainnya yang berupa ketaatan kepada syaithan, maka ini diharamkan atas seorang mukmin, dan merupakan bentuk kufur kepada Allah terhadap nikmat lidah. *)*)[Lihat Aafaatul Lisaan fii Dhauil Kitab was Sunnah, hlm, 4-5, 159-160, karya Dr. Sa'id bin 'Ali bin Wahf Al-Qahthani]

Dengan demikian, lidah manusia itu bisa menyebabkan ketinggian derajat hamba di sisi Allah, namun juga bisa menyebabkan kecelakaan yang besar bagi pemiliknya.
Rasulullah n bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk keridhoan Allah, dia tidak menganggapnya penting, dengan sebab satu kalimat itu Allah menaikkannya beberapa derajat. Dan sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk kemurkaan Allah, dia tidak menganggapnya penting, dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka Jahannam. (HR. Bukhari, no. 6478)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani t menjelaskan makna "dia tidak menganggapnya penting", yaitu dia tidak memperhatikannya dengan fikirannya dan tidak memikirkan akibatnya, serta tidak menduga bahwa kalimat itu akan mempengaruhi sesuatu. (Fathul Bari, penjelasan hadits no. 6478)


BENCANA LIDAH
Bencana pada lidah –secara umum- ada dua: berbicara batil (kerusakan; sia-sia) dan diam dari al-haq yang wajib diucapkan.
Abu 'Ali Ad-Daqqaaq t (wafat 412 H) berkata:
المتكلم بالباطل شيطان ناطق و الساكت عن الحق شيطان أخرس
Orang yang berbicara dengan kebatilan adalah syaithan yang berbicara, sedangkan orang yang diam dari kebenaran adalah syaithan yang bisu. *)*)[Disebutkan oleh Ibnul Qayyim di dalam Ad-Daa' wad Dawaa', hlm. 155, tahqiq syaikh 'Ali bin Hasan Al-Halabi, penerbit Dar Ibnil Jauzi]

Orang yang berbicara dengan kebatilan adalah syaithan yang berbicara, dia bermaksiat kepada Allah Ta'ala. Sedangkan orang yang diam dari kebenaran adalah syaithan yang bisu, dia juga bermaksiat kepada Allah Ta'ala. Seperti seseorang yang bertemu dengan orang fasik, terang-terangan melakukan kemaksiatan di hadapannya, dia berkata lembut, tanpa mengingkarinya, walau di dalam hati. Atau melihat kemungkaran, dan dia mampu merubahnya, namun dia membisu karena menjaga kehormatan pelakunya, atau orang lain, atau karena cuek terhadap agama.
Kebanyakan manusia, ketika berbicara atau ketika diam, menyimpang di dalam dua jenis bencana lidah sebagaimana di atas. Sedangkan orang yang beruntung adalah orang yang menahan lidahnya dari kebatilan, dan menggunakannya untuk perkara yang bermanfaat.
Dan bencana lidah termasuk bencana-bencana yang berbahaya bagi manusia. Bencana lidah itu bisa mengenai pribadi, masyarakat, atau umat Islam secara keseluruhan. Termasuk perkara yang mengherankan, bahwa seseorang itu terkadang mudah menjaga diri dari makanan yang haram, berbuat zhalim kepada orang lain, berzina, mencuri, minum khamr, melihat wanita yang tidak halal dilihat, dan lainnya, namun dia kesusahan menjaga diri dari gerakan lidahnya! Sehingga terkadang anda lihat seseorang yang dikenal dengan agamanya, zuhudnya, dan ibadahnya, namun dia mengucapkan kalimat-kalimat yang menajdi kemurkaan Allah, dia tidak memperhatikannya. Padahal dengan sebab satu kalimat itu saja, dia bisa terjerumus ke dalam neraka melebihi jarak timur dan barat! Atau dia tersungkur di dalam neraka selama tujuh puluh tahun!! *)*)[Lihat Aafaatul Lisaan fii Dhauil Kitab was Sunnah, hlm, 5-6, 163, karya Dr. Sa'id bin 'Ali bin Wahf Al-Qahthani]

Rasulullah n bersabda:
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ
Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan satu kalimat, dia tidak menganggapnya berbahaya, dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal selama 70 tahun di dalam neraka. *)*)[HR. Tirmidzi, no. 2314; Ibnu Majah, no. 3970; Ahmad, 2/355, 533; Ibnu Hibban, no. 5706. Syaikh Al-Albani menyatakan "Hasan Shahih"]

Di dalam riwayat lain, disebutkan bahwa beliau bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ
Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang dia tidak jelas apa yang ada di dalam kalimat itu, namun dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka lebih jauh dari antara timur dan barat. (HR. Muslim, no.2988)

Alangkah banyaknya orang yang menjaga diri dari perbuatan keji dan maksiat, namun lidahnya memotong dan menyembelih kehormatan orang-orang yang masih hidup atau yang sudah meninggal! Dia tidak peduli dengan apa yang sedang dia ucapkan. Laa haula wa laa quwwata illa bilaahi Al-'Aliyyil 'Azhiim.
Jika anda ingin mengetahui hal ini, maka marilah kita bersama memperhatikan hadits Nabi n di bawah ini:
عَنْ جُنْدَبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لِفُلَانٍ وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ أَوْ كَمَا قَالَ
Dari Jundab, bahwa Rasulullah n mengisahkan bahwa ada seorang laki-laki berkata: "Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni Si Fulan!" Kemudian sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman: "Siapakah yang bersumpah atas namaKu, bahwa Aku tidak akan mengampuni Si Fulan, sesungguhnya Aku telah mengampuni Si Fulan, dan Aku menggugurkan amalmu". Atau seperti yang disabdakan Nabi. (HR. Muslim, no. 2621)

Oleh karena bahaya lidah yang demikian itulah, Rasulullah n mengkhawatirkan terhadap umatnya.
عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ حَدِّثْنِي بِأَمْرٍ أَعْتَصِمُ بِهِ قَالَ قُلْ رَبِّيَ اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقِمْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَخْوَفُ مَا تَخَافُ عَلَيَّ فَأَخَذَ بِلِسَانِ نَفْسِهِ ثُمَّ قَالَ هَذَا
Dari Sufyan bin Abdulloh Ats-Tsaqofi, dia berkata: "Aku berkata, wahai Rosululloh, katakan kepadaku dengan satu perkara yang aku akan berpegang dengannya!" Beliau menjawab: "Katakanlah, 'Rabbku adalah Allah', lalu istiqomahlah". Aku berkata: "Wahai Rosululloh, apakah yang paling anda khawatirkan atasku?". Beliau memegang lidah beliau sendiri, lalu bersabda: "Ini". (HR. Tirmidzi, no. 2410; Ibnu Majah, no. 3972; dishahihkan oleh syaikh Al-Albani)

Syaikh Husain Al-'Awaisyah berkata: "Sesungguhnya sekarang ini, sesuatu yang manusia merasa amat tentram terhadapnya adalah lidah mereka, padahal lidah itu adalah yang paling Nabi n khawatirkan atas umatnya. Dan yang terlihat bahwa lidah itu seolah-olah pabrik keburukan, tidak pernah lelah dan bosan". (Hashaaidul Alsun, hlm. 15, penerbit. Darul Hijrah)
Baca Selengkapnya...

MENGENDALIKAN LIDAH

MENGENDALIKAN LIDAH
Disusun oleh Abu Isma'il Muslim Al-Atsari

Lidah adalah anggota badan yang benar-benar perlu dijaga dan dikendalikan. Sesungguhnya lidah adalah penterjemah hati dan pengungkap isi hati. Oleh karena itulah setelah nabi  memerintahkan istiqomah, beliau mewasiatkan untuk menjaga lisan. Dan lurusnya lidah itu berkaitan dengan kelurusan hati dan keimanan seseorang. Di dalam Musnad imam Ahmad dari Anas bin Malik , dari Nabi  , beliau bersabda:
لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ وَلَا يَدْخُلُ رَجُلٌ الْجَنَّةَ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
Iman seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga hatinya istiqomah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga lisannya istiqomah. Dan orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan-kejahatannya, tidak akan masuk sorga. (HR. Ahmad, no. 12636, dihasankan oleh syaikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin 3/13)

Dan di dalam Tirmidzi (no. 2407) dari Abu Sa'id Al-Khudri, Nabi n bersabda:
إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا
Jika anak Adam memasuki pagi hari sesungguhnya semua anggota badannya berkata merendah kepada lesan: "Taqwalah kepada Alloh di dalam menjaga hak-hak kami, sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Jika engkau istiqomah, maka kami juga istiqomah, jika engkau menyimpang (dari jalan petunjuk), kami juga menyimpang. (HR. Tirmidzi, no. 2407; dihasankan oleh syaikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin 3/17, no. 1521) (Jami'ul 'Uluum wal Hikam, 1/511-512)

Oleh karena itulah sepantasnya seorang mukmin menjaga lidahnya. Tahukah anda jaminan bagi orang yang menjaga lidahnya dengan baik? Nabi Muhammad n bersabda:
مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
Siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin sorga baginya. (HR. Bukhari, no. 6474; Tirmidzi, no. 2408; lafazh bagi Bukhari)

Beliau juga menjelaskan bahwa menjaga lidah merupakan keselamatan.
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ قَالَ أَمْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ
Dari 'Uqbah bin 'Aamir, dia berkata: "Aku bertanya, wahai Rasulallah, apakah sebab keselamatan?" Beliau menjawab: "Kuasailah lidahmu, hendaklah rumahmu luas bagimu, dan tangisilah kesalahanmu". (HR. Tirmidzi, no.2406)

Yaitu janganlah engkau berbicara kecuali dengan perkara yang membawa kebaikanmu, betahlah tinggal di dalam rumah dengan melakukan ketaatan-ketaatan, dan hendaklah engkau menyesali kesalahanmu dengan cara menangis. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan Tirmidzi)
Imam An-Nawawi t (wafat 676 H) berkata: "Ketahuilah, sepantasnya bagi setiap mukallaf (orang yang berakal dan baligh) menjaga lidahnya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang jelas mash-lahat padanya. Ketika berbicara atau meninggalkannya itu sama mash-lahatnya, maka menurut Sunnah adalah menahan diri darinya. Karena perkataan mubah bisa menyeret kepada perkataan yangharam atau makruh. Bahkan ini banyak atau dominan pada kebiasaan. Sedangkan keselamatan itu tiada bandingannya. Telah diriwayatkan kepada kami di dalam dua Shahih, Al-Bukhari (no. 6475) dan Muslim (no. 47), dari Abu Hurairah z , dari Nabi n , beliau bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam".

Aku katakan: hadits yang disepakati shahihnya ini merupakan nash yang jelas bahwa sepantasnya seseorang tidak berbicara kecuali jika perkataan itu merupakan kebaikan, yaitu yang nampak mash-lahatnya. Jika dia ragu-ragu tentang timbulnya mash-lahat, maka dia tidak berbicara.
Dan imam Asy-Syafi'i telah berkata: "Jika seseorang menghendaki berbicara, maka sebelum dia berbiacra hendaklah berfiikir, jika nampak jelas mash-lahatnya dia berbicara, dan jika dia ragu-ragu, maka dia tidak berbicara sampai jelas mash-lahatnya". *)*)[Al-Adzkaar, 2/713-714, karya imam An-Nawawi, tahqiiq dan takhriij syaikh Salim Al-Hilaali, penerbit Dar Ibni Hazm, cet. 2, th. 1425 H / 2004 M]
Selain itu bahwa lidah merupakan alat yang mengungkapkan isi hati. Jika anda ingin mengetahui isi hati seseorang, maka perhatikanlah gerakan lidahnya, isi pembicaraannya, hal itu akan memberitahukan isi hatinya, baik orang tersebut mau atau enggan.
Diriwayatkan bahwa Yahya bin Mu'adz berkata: "Hati itu seperti periuk yang mendidih dengan isinya, sedangkan lidah itu adalah gayungnya. Maka perhatikanlah seseorang ketika berbicara, karena sesungguhnya lidahnya itu akan mengambilkan untukmu apa yang ada di dalam hatinya, manis, pahit, tawar, asin, dan lainnya. Pengambilan lidahnya akan menjelaskan kepadamu rasa hatinya". *)*)[Hilyatul Au'iyaa', 10/63, dinukil dari Aafaatul Lisaan fii Dhauil Kitab was Sunnah, hlm, 159, karya Dr. Sa'id bin 'Ali bin Wahf Al-Qahthani]

PERKATAAN PARA SALAF TENTANG HIFZHUL LISAN
Sesungguhnya para Salaf dahulu biasa menjaga dan menghisab lidahnya dengan baik. Dan diriwayatkan dari mereka perkataan-perkataan yang bagus berkaitan dengan lidah dan pembicaraan. Kami sampaikan di sini sebagiannya agar kita dapat memetik manfaat darinya.
Diriwayatkan bahwa 'Umar bin Al-Khaththab berkata: "Barangsiapa banyak pembicaraannya, banyak pula tergelincirnya. Dan barangsiapa banyak tergelincirnya, banyak pula dosanya. Dan barangsiapa banyak dosa-dosanya, neraka lebih pantas baginya". *)*)[Riwayat Al-Qudhai di dalam Musnad Asy-Syihab, no. 374; Ibnu Hibban di dalam Raudhatul 'Uqala', hlm. 44. Dinukil dari Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, juz: 1, hlm: 339, karya Imam Ibnu Rojab, dengan penelitian Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrohim Bajis; penerbit Ar-Risalah; cet: 5; th: 1414 H/ 1994 M]
Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas'ud pernah bersumpah dengan nama Allah, lalu mengatakan: "Tidak ada di muka bumi ini sesuatu yang lebih pantas terhadap lamanya penjara daripada lidah!" *)*)[Riwayat Ibnu Hibban di dalam Raudhatul 'Uqala', hlm. 48. Dinukil dari Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, juz: 1, hlm. 340]
Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas'ud berkata: "Jauhilah fudhuulul kalam (pembicaraan yang melebihi keperluan). Cukup bagi seseorang berbicara yang menyampaikan kebutuhannya". *)*)[Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, juz: 1, hlm. 339]
Syaqiq mengatakan: "'Abdullah bin Mas'ud bertalbiyah di atas bukit Shofa, kemudian mengatakan: "Wahai lidah, katakanlah kebaikan niscaya engkau mendapatkan keberuntungan, diamlah niscaya engkau selamat, sebelum engaku menyesal". Orang-orang bertanya: "Wahai Abu 'Abdurrahman, ini adalah suatu perkataan yang engkau ucapkan sendiri, atau engkau dengar|?" Dia menjawab|: "Tidak, bahkan aku telah mendengar Rasulallah n bersabda:
أَكْثَرُ خَطَايَا إِبْنِ آدَمَ فِي لِسَانِهِ
Mayoritas kesalahan anak Adam adalah pada lidahnya. (HR. Thabarani, Ibnu 'Asakir, dan lainnya. Lihat Silsilah Ash-Shahihah, no. 534)

Diriwayatkan bahwa Ibnu Buraidah mengatakan: "Aku melihat Ibnu 'Abbas memegangi lidahnya sambil berkata "Celaka engkau, katakanlah kebaikan, engkau mendapatkan keberuntungan. Dimalah dari keburukan, niscaya engkau selamat. Jika tidak, ketahuilah bahwa engaku akan menyesal". *)*)[Aafatul lisaan, hlm. 161]
Diriwayatkan bahwa An-Nakhai berkata: "Manusia binasa pada fudhuulul maal (harta yang melebihi kebutuhan) dan fudhuulul kalam". *)*)[Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, juz: 1, hlm. 339]
Diriwayatkan bahwa ada seseorang yang bermimpi bertemu dengan seorang 'alim besar. Kemudian orang 'alim itu ditanya tentang keadaannya, dia menjawab: "Aku diperiksa tentang satu kalimat yang dahulu aku ucapkan. Yaitu aku dahulu pernah mengatakan "Manusia sangat membutuhkan hujan!" Aku ditanya: "Tahukah engkau tahu bahwa Aku (Allah) lebih mengetahui terhadap mash-lahat hamba-hambaKu?" *)*)[Aafatul lisaan, hlm. 160-161]
Diriwayatkan bahwa seorang Salaf mengatakan: "Seorang mukmin itu menyedikitkan omongan dan memperbanyak amalan. Adapun orang munafik, dia memperbanyak omongan dan menyedikitkan amalan".
Diriwayatkan bahwa seorang Salaf mengatakan: "Selama aku belum berbicara dengan satu kalimat, maka aku manguasainya. Namun jika aku telah mengucapkannya, maka kalimat itu menguasaiku".
Diriwayatkan bahwa seorang Salaf mengatakan: "Diam adalah ibadah tanpa kelelahan, keindahan tanpa perhiasan, kewibawaan tanpa kekuasaan, anda tidak perlu beralasan karenanya, dan dengannya aibmu tertutupi". *)*)[Lihat Hashaaidul Alsun, hlm. 175-176]
Kesimpulannya adalah bahwa kita diperintahkan berbicara yang baik, dan diam dari keburukan. Jika berbicara hendaklah sesuai dengan keperluannya. Wallahul Musta'an.

MASHAADIR:
1-Aafaatul Lisaan fii Dhauil Kitab was Sunnah, karya Dr. Sa'id bin 'Ali bin Wahf Al-Qahthani
2-Al-Adzkaar, karya imam An-Nawawi, tahqiiq dan takhriij syaikh Salim Al-Hilaali, penerbit Dar Ibni Hazm, cet. 2, th. 1425 H / 2004 M
3-Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, karya Imam Ibnu Rojab, dengan penelitian Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrohim Bajis; penerbit Ar-Risalah; cet: 5; th: 1414 H/ 1994 M)
4-Hashaaidul Alsun, karya syaikh Husain Al-'Awaisyah, penerbit. Darul Hijrah. Dan lain-lain.
Baca Selengkapnya...

DZIKRUL MAUT

DZIKRUL MAUT
Disusun oleh Abu Isma’il Muslim Al-Atsari

Sesungguhnya kematian merupakan hakekat yang menakutkan, akan mendatangi seluruh orang yang hidup. Semuanya tidak kuasa menolaknya, tidak ada seorangpun di sekitarnya yang mampu menahannya. Maut merupakan ketetapan Alloh, seandainya ada seseorang selamat dari maut, niscaya manusia yang paling mulia yang akan selamat. Namun maut merupakan SunnahNya pada seluruh makhlukNya. Alloh Ta’ala berfirman: وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ .كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. (QS. Al-Anbiya’ (21): 34, 35)

LARI DARI KEMATIAN?
Kekuasaan Alloh meliputi segala sesuatu. Dia telah menetapkan adanya kematian pada manusia, maka bagaimanapun manusia menghindar dari kematian, kematian itu tetap akan menyusulnya. Alloh Ta’ala berfirman: أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. (QS. An-Nisa’ (4): 78). Alloh menantang orang-orang yang menyangka bahwa mereka tidak dikuasai oleh Alloh, agar mengembalikan nyawa orang yang sekarat, jika memang mereka benar! فَلَوْ لآ إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ. وَأَنتُمْ حِينَئِذٍ تَنظُرُونَ. وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ وَلَكِن لاَّ تُبْصِرُونَ. فَلَوْ لآ إِن كُنتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ. تَرْجِعُونَهَا إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tapi kamu tidak melihat, maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah), kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar. (QS. Al-Waqi’ah (56): 83-87) AWAS KEMATIAN MENDADAK! Kita berada di akhir zaman, banyak terjadi kematian mendadak, memang itu merupakan salah satu tanda-tanda hari kiamat. Nabi -sholallahu ‘alaihi was sallam- bersabda: إِنَّ مِنْ أَمَارَاتِ السَّاعَةِ …أَنْ يَظْهَرَ مَوْتُ الْفَجْأَةِ Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat adalah…munculnya kematian mendadak. (HR. Thobaroni; Dhiya’ Al-Maqdisi; dihasankan oleh Syeikh Al-Albani di dalam Shohih Al-Jami, no: 5775) Sabda Nabi -sholallahu ‘alaihi was sallam- tersebut di zaman ini benar-benar sudah nyata. Kita lihat seseorang yang sehat, kemudian mati tiba-tiba, orang-orang sekarang menyebutnya dengan “serangan jantung”! Maka orang yang berakal hendaklah memperhatikan dirinya, segera kembali dan bertaubat kepada Penguasanya, sebelum kedatangan kematian mendadak yang tidak dia sangka!.

ANJURAN MENGINGAT MAUT
Banyak hadits-hadits yang mengingatkan tentang maut, agar manusia selalu ingat bahwa hidup di dunia ini tidaklah selamanya. Dan agar dia bersiap-siap dengan perbekalan yang dia butuhkan untuk perjalanannya yang panjang. Rasulullah -sholallahu ‘alaihi was sallam- bersabda: أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ : الْمَوْتَ , فَإِنَّهُ لَمْ يَذْكُرْهُ أَحَدٌ فِيْ ضِيْقٍ مِنَ الْعَيْشِ إِلاَّ وَسَّعَهُ عَلَيْهِ , وَلاَ ذَكَرَهُ فِيْ سَعَةٍ إِلاَّ ضَيَّقَهَا عَلَيْهِ Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan: yaitu kematian. Karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya di waktu sempit kehidupannya, kecuali (mengingat kematian) itu melonggarkan kesempitan hidup atas orang itu. Dan tidaklah seseorang mengingatnya di waktu luas (kehidupannya), kecuali (mengingat kematian) itu menyempitkan keluasan hidup atas orang itu. (Hadits Shohih Riwayat Ath-Thobaroni dan Al-Hakim. Lihat Shahih Al-Jami’ush Shaghir: no. 1222; Shohih At-Targhib, no: 3333) Orang yang banyak mengingat kematian dan mempersiapkannya dengan iman yang shohih (benar), tauhid yang kholish (murni), amal yang sholih (sesuai dengan tuntunan), dengan landasan niat yang ikhlas, itulah orang-orang yang paling berakal! عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا قَالَ فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ Dari Ibnu Umar –semoga Alloh meridhoinya-, dia berkata: “Aku bersama Rosululloh -sholallahu ‘alaihi was sallam-, lalu seorang laki-laki Anshor datang kepada beliau, kemudian mengucapkan salam kepada beliau, lalu dia berkata: “Wahai Rosululloh, manakah di antara kaum mukminin yang paling utama?”. Beliau menjawab: “Yang paling baik akhlaknya di antara mereka”. Laki-laki itu bertanya lagi: “Manakah di antara kaum mukminin yang paling cerdik?”. Beliau menjawab: “Yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka, dan yang paling baik persiapannya setelah kematian. Mereka itulah orang-orang yang cerdik”. (HR. Ibnu Majah, no: 4259. Hadits Hasan; Lihat Ash-Shohihah, no: 1384)

PENYESALAN ORANG KAFIR DI SAAT KEMATIAN `
Janganlah seseorang menolak keimanan dan menyepelekan amal sholih, karena suatu saat pasti dia akan menyesal. Alloh Ta’ala berfirman: حَتَّى إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتَ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ {99} لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلآ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata:"Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitan. (QS. Al-Mukminun (23): 99-100)

SEGERA BERAMAL SEBELUM DATANG KEMATIAN
Janganlah seseorang selalu mengundurkan amal sholih karena kesibukan duniawi, karena selama masih hidup, manusia tidak akan lepas dari kesibukan! Orang yang berakal akan mengutamakanlah urusan akhirot yang pasti datang, dan mengalahkan urusan dunia yang pasti ditinggalkan.
Allah Ta'ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلآ أَوْلاَدُكُمْ عَن ذِكْرِ اللهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ {9} وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْ لآ أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ {10} وَلَن يُؤَخِّرَ اللهُ نَفْسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَا وَاللهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa melakukan demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.
Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata:"Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh".
Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Munafiqun: 9-11)

PENUTUP
Hamid Al-Qoishori –semoga Alloh merahmatinya- berkata:
“Kita semua telah meyakini kematian, tetapi kita tidak melihat orang yang bersiap-siap menghadapinya! Kita semua telah meyakini adanya sorga, tetapi kita tidak melihat orang yang beramal untuknya! Kita semua telah meyakini adanya neraka, tetapi kita tidak melihat orang yang takut terhadapnya! Maka terhadap apa kamu bergembira?! Kemungkinan apakah yang kamu nantikan?! kematian! Itulah perkara pertama kali yang akan datang kepadamu dengan membawa kebaikan atau keburukan. Wahai saudara-saudaraku! Berjalanlah menghadap Penguasamu (Alloh) dengan perjalanan yang bagus”. (Mukhtashor Minhajul Qoshidin, hal: 483, tahqiq: Syeikh Ali bin Hasan Al-Halabi)

Inilah sedikit tentang dzikrul maut semoga bermanfaat. Wallohul-Musta’an (Hanya Alloh tempat mohon pertolongon).
Baca Selengkapnya...

Tanda-tanda Kekuasaan Allah Ta'ala

Tanda-tanda kekuasaan Allah Ta'ala
Awan Membentuk Lafdzul Jalalah
Dipagi hari sekita pukul 06.00 wib tanggal 14 Februari 2009 dari Pon Pes Ibnu Abbas As Salafy Kliwonan Masaran Sargen Jawa Tengan para ustadz dan santri menyaksikan salah satu ayat-ayat Allah, yaitu awan yang membentuk tulisan -tulisan arab- Allahu Akbar dan Muhammmad.
Dipagi hari itu, sebagaimana aktifitas rutin para santri setiap habis Sholat Subuh mereka ada pelajaran Tahfidzul Qur'an. Selesai mereka ikut pelajaran tahfidzul para santri terus melakukan aktifitas pagi hari sebagaimana hari-hari biasanya, ada yang mandi, ada yang belajar dan ada yang langsung makan. Ketika ada salah seorang santri yang mau pergi untuk mengambil makan tak sengaja dia melihat kelangit. Ia mendapati awan yang ajaib yang membentuk tulisan -tulisan arab- Allahu Akbar. Lalu ia berteriak-teriak, " hai..hai...enek awan sing bentuk tulisan Allah".(Ada awan yang membentuk tulisan Allah). Langsung para santri berlari-lari turut ingin melihat awan tersebut.
Begitu pula para ustadz juga pingin melihatnya. Ternyata setelah dilihat bersama-sama ternyata awan tersebut membentuk tulisan -tulisan arab- Allahu Akbar. Melihat fenomena Ayat-ayat kauniyah Allah tersebut Usatdz Jabir, Lc dan Ustadz Faruqi bergegas lari untuk mengambil HP untuk mendokumentasikannya. Akhirnya Ustadz Jabir, Lc bisa mengambil satu foto dan ustadz Faruqi dua foto. Tapi ketika beliau sedang mengambil Ayat-ayat Kauniyah tersebut tulisan -tulisan arab- Akbar nya sudah memudar, sehingga yang nampak hanya tulisan -tulisan arab- Allah.



Ternyata selaian tulis -tulisan arab- Allah akbar dipenjuru arah yang lain adan awan yang juga membentuk tulisan -tulisan arab Muhammad. Ustadz Faruqi berusaha untuk mengambil Ayat-ayat kauniyah tersebut dengan mencoba naik ke lantai atas gedung pondok, tetapi sesampai diatas ternyata awannya sudah memudar dan hanya masih nampak huruf -huruf arab- ha' saja. Sehinggan tidak jadi terdokumnetasi.
Demikianlah Ayat-ayat Kauniyah Allah yang dinampakkan kepada kita,yang merupakan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Semoga bisa menambah keimanan dan ketaatan kita kepada Allah.
Baca Selengkapnya...

MENGENDALIKAN LIDAH

MENGENDALIKAN LIDAH
Disusun oleh Abu Isma'il Muslim Al-Atsari

Lidah adalah anggota badan yang benar-benar perlu dijaga dan dikendalikan. Sesungguhnya lidah adalah penterjemah hati dan pengungkap isi hati. Oleh karena itulah setelah nabi  memerintahkan istiqomah, beliau mewasiatkan untuk menjaga lisan. Dan lurusnya lidah itu berkaitan dengan kelurusan hati dan keimanan seseorang. Di dalam Musnad imam Ahmad dari Anas bin Malik , dari Nabi  , beliau bersabda:
لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ وَلَا يَدْخُلُ رَجُلٌ الْجَنَّةَ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
Iman seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga hatinya istiqomah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga lisannya istiqomah. Dan orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan-kejahatannya, tidak akan masuk sorga. (HR. Ahmad, no. 12636, dihasankan oleh syaikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin 3/13)

Dan di dalam Tirmidzi (no. 2407) dari Abu Sa'id Al-Khudri, Nabi n bersabda:
إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا
Jika anak Adam memasuki pagi hari sesungguhnya semua anggota badannya berkata merendah kepada lesan: "Taqwalah kepada Alloh di dalam menjaga hak-hak kami, sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Jika engkau istiqomah, maka kami juga istiqomah, jika engkau menyimpang (dari jalan petunjuk), kami juga menyimpang. (HR. Tirmidzi, no. 2407; dihasankan oleh syaikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin 3/17, no. 1521) (Jami'ul 'Uluum wal Hikam, 1/511-512)

Oleh karena itulah sepantasnya seorang mukmin menjaga lidahnya. Tahukah anda jaminan bagi orang yang menjaga lidahnya dengan baik? Nabi Muhammad n bersabda:
مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
Siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin sorga baginya. (HR. Bukhari, no. 6474; Tirmidzi, no. 2408; lafazh bagi Bukhari)

Beliau juga menjelaskan bahwa menjaga lidah merupakan keselamatan.
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ قَالَ أَمْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ
Dari 'Uqbah bin 'Aamir, dia berkata: "Aku bertanya, wahai Rasulallah, apakah sebab keselamatan?" Beliau menjawab: "Kuasailah lidahmu, hendaklah rumahmu luas bagimu, dan tangisilah kesalahanmu". (HR. Tirmidzi, no.2406)

Yaitu janganlah engkau berbicara kecuali dengan perkara yang membawa kebaikanmu, betahlah tinggal di dalam rumah dengan melakukan ketaatan-ketaatan, dan hendaklah engkau menyesali kesalahanmu dengan cara menangis. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan Tirmidzi)
Imam An-Nawawi t (wafat 676 H) berkata: "Ketahuilah, sepantasnya bagi setiap mukallaf (orang yang berakal dan baligh) menjaga lidahnya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang jelas mash-lahat padanya. Ketika berbicara atau meninggalkannya itu sama mash-lahatnya, maka menurut Sunnah adalah menahan diri darinya. Karena perkataan mubah bisa menyeret kepada perkataan yangharam atau makruh. Bahkan ini banyak atau dominan pada kebiasaan. Sedangkan keselamatan itu tiada bandingannya. Telah diriwayatkan kepada kami di dalam dua Shahih, Al-Bukhari (no. 6475) dan Muslim (no. 47), dari Abu Hurairah z , dari Nabi n , beliau bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam".

Aku katakan: hadits yang disepakati shahihnya ini merupakan nash yang jelas bahwa sepantasnya seseorang tidak berbicara kecuali jika perkataan itu merupakan kebaikan, yaitu yang nampak mash-lahatnya. Jika dia ragu-ragu tentang timbulnya mash-lahat, maka dia tidak berbicara.
Dan imam Asy-Syafi'i telah berkata: "Jika seseorang menghendaki berbicara, maka sebelum dia berbiacra hendaklah berfiikir, jika nampak jelas mash-lahatnya dia berbicara, dan jika dia ragu-ragu, maka dia tidak berbicara sampai jelas mash-lahatnya". *)*)[Al-Adzkaar, 2/713-714, karya imam An-Nawawi, tahqiiq dan takhriij syaikh Salim Al-Hilaali, penerbit Dar Ibni Hazm, cet. 2, th. 1425 H / 2004 M]
Selain itu bahwa lidah merupakan alat yang mengungkapkan isi hati. Jika anda ingin mengetahui isi hati seseorang, maka perhatikanlah gerakan lidahnya, isi pembicaraannya, hal itu akan memberitahukan isi hatinya, baik orang tersebut mau atau enggan.
Diriwayatkan bahwa Yahya bin Mu'adz berkata: "Hati itu seperti periuk yang mendidih dengan isinya, sedangkan lidah itu adalah gayungnya. Maka perhatikanlah seseorang ketika berbicara, karena sesungguhnya lidahnya itu akan mengambilkan untukmu apa yang ada di dalam hatinya, manis, pahit, tawar, asin, dan lainnya. Pengambilan lidahnya akan menjelaskan kepadamu rasa hatinya". *)*)[Hilyatul Au'iyaa', 10/63, dinukil dari Aafaatul Lisaan fii Dhauil Kitab was Sunnah, hlm, 159, karya Dr. Sa'id bin 'Ali bin Wahf Al-Qahthani]

PERKATAAN PARA SALAF TENTANG HIFZHUL LISAN
Sesungguhnya para Salaf dahulu biasa menjaga dan menghisab lidahnya dengan baik. Dan diriwayatkan dari mereka perkataan-perkataan yang bagus berkaitan dengan lidah dan pembicaraan. Kami sampaikan di sini sebagiannya agar kita dapat memetik manfaat darinya.
Diriwayatkan bahwa 'Umar bin Al-Khaththab berkata: "Barangsiapa banyak pembicaraannya, banyak pula tergelincirnya. Dan barangsiapa banyak tergelincirnya, banyak pula dosanya. Dan barangsiapa banyak dosa-dosanya, neraka lebih pantas baginya". *)*)[Riwayat Al-Qudhai di dalam Musnad Asy-Syihab, no. 374; Ibnu Hibban di dalam Raudhatul 'Uqala', hlm. 44. Dinukil dari Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, juz: 1, hlm: 339, karya Imam Ibnu Rojab, dengan penelitian Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrohim Bajis; penerbit Ar-Risalah; cet: 5; th: 1414 H/ 1994 M]
Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas'ud pernah bersumpah dengan nama Allah, lalu mengatakan: "Tidak ada di muka bumi ini sesuatu yang lebih pantas terhadap lamanya penjara daripada lidah!" *)*)[Riwayat Ibnu Hibban di dalam Raudhatul 'Uqala', hlm. 48. Dinukil dari Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, juz: 1, hlm. 340]
Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas'ud berkata: "Jauhilah fudhuulul kalam (pembicaraan yang melebihi keperluan). Cukup bagi seseorang berbicara yang menyampaikan kebutuhannya". *)*)[Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, juz: 1, hlm. 339]
Syaqiq mengatakan: "'Abdullah bin Mas'ud bertalbiyah di atas bukit Shofa, kemudian mengatakan: "Wahai lidah, katakanlah kebaikan niscaya engkau mendapatkan keberuntungan, diamlah niscaya engkau selamat, sebelum engaku menyesal". Orang-orang bertanya: "Wahai Abu 'Abdurrahman, ini adalah suatu perkataan yang engkau ucapkan sendiri, atau engkau dengar|?" Dia menjawab|: "Tidak, bahkan aku telah mendengar Rasulallah n bersabda:
أَكْثَرُ خَطَايَا إِبْنِ آدَمَ فِي لِسَانِهِ
Mayoritas kesalahan anak Adam adalah pada lidahnya. (HR. Thabarani, Ibnu 'Asakir, dan lainnya. Lihat Silsilah Ash-Shahihah, no. 534)

Diriwayatkan bahwa Ibnu Buraidah mengatakan: "Aku melihat Ibnu 'Abbas memegangi lidahnya sambil berkata "Celaka engkau, katakanlah kebaikan, engkau mendapatkan keberuntungan. Dimalah dari keburukan, niscaya engkau selamat. Jika tidak, ketahuilah bahwa engaku akan menyesal". *)*)[Aafatul lisaan, hlm. 161]
Diriwayatkan bahwa An-Nakhai berkata: "Manusia binasa pada fudhuulul maal (harta yang melebihi kebutuhan) dan fudhuulul kalam". *)*)[Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, juz: 1, hlm. 339]
Diriwayatkan bahwa ada seseorang yang bermimpi bertemu dengan seorang 'alim besar. Kemudian orang 'alim itu ditanya tentang keadaannya, dia menjawab: "Aku diperiksa tentang satu kalimat yang dahulu aku ucapkan. Yaitu aku dahulu pernah mengatakan "Manusia sangat membutuhkan hujan!" Aku ditanya: "Tahukah engkau tahu bahwa Aku (Allah) lebih mengetahui terhadap mash-lahat hamba-hambaKu?" *)*)[Aafatul lisaan, hlm. 160-161]
Diriwayatkan bahwa seorang Salaf mengatakan: "Seorang mukmin itu menyedikitkan omongan dan memperbanyak amalan. Adapun orang munafik, dia memperbanyak omongan dan menyedikitkan amalan".
Diriwayatkan bahwa seorang Salaf mengatakan: "Selama aku belum berbicara dengan satu kalimat, maka aku manguasainya. Namun jika aku telah mengucapkannya, maka kalimat itu menguasaiku".
Diriwayatkan bahwa seorang Salaf mengatakan: "Diam adalah ibadah tanpa kelelahan, keindahan tanpa perhiasan, kewibawaan tanpa kekuasaan, anda tidak perlu beralasan karenanya, dan dengannya aibmu tertutupi". *)*)[Lihat Hashaaidul Alsun, hlm. 175-176]
Kesimpulannya adalah bahwa kita diperintahkan berbicara yang baik, dan diam dari keburukan. Jika berbicara hendaklah sesuai dengan keperluannya. Wallahul Musta'an.

MASHAADIR:
1- Aafaatul Lisaan fii Dhauil Kitab was Sunnah, karya Dr. Sa'id bin 'Ali bin Wahf Al-Qahthani
2- Al-Adzkaar, karya imam An-Nawawi, tahqiiq dan takhriij syaikh Salim Al-Hilaali, penerbit Dar Ibni Hazm, cet. 2, th. 1425 H / 2004 M
3- Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, karya Imam Ibnu Rojab, dengan penelitian Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrohim Bajis; penerbit Ar-Risalah; cet: 5; th: 1414 H/ 1994 M)
4- Hashaaidul Alsun, karya syaikh Husain Al-'Awaisyah, penerbit. Darul Hijrah. Dan lain-lain.
Baca Selengkapnya...

HATI SEDIH DAN PENGOBATANNYA MENURUT ISLAM

Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- seringkali berlindung kepada Allah dan mohon dijauhkan dari rasa sedih dan susah. Beliau sering berdo’a :

اللَهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الهَمِّ وَالحُزْنِ, وَمِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ, وَمِنَ الجُبْنِ وَالبُخْلِ

"Wahai Allah, aku mohon lindung kepada-Mu dari rasa sedih dan susah, dari rasa lemah dan malas, dan dari sifat pengecut dan kikir"

Manusia hidup di dunia memang pasti merasa sedih dan susah, sebab sifat ini menjadi naluri manusia itu sendiri. Oleh karena ini, topik pembicaraan kita saat ini adalah tentang kesedihan secara umum, dan bagaimana Islam mengobatinya.

Setiap orang di dalam hidupnya pasti mengalami ujian dan cobaan. Manusia tetap manusia. Suatu ketika pasti diuji dan dicoba oleh Allah. Sebab memang demikianlah manusia diciptakan, sebagaimana firman Allah : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya , karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat”. (QS. Al-Insaan : 2). Allah -Subhanahu wa ta'ala- juga berfirman : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”. (QS. Al-Balad : 4). Maksudnya, dia berada di dalam bersusah payah sejak dia dilahirkan.

Sejak lahir manusia sudah keluar menangis. Ini pertanda bahwa di dalam hidupnya dia harus menjawab segala macam ujian. Tidak semua yang diharapkan pasti diprolehnya. Di dalam kehidupan ini banyak hal-hal yang datangnya secara spontanitas. Tidak terduga sebelumnya, terkadang kehilangan orang yang dihormati dan dicintai. Terkadang kehilangan harta, keluarga, bahkan harus meninggalkan tanah air. Tabiat kehidupan di dunia sama pula dengan tabiat manusia itu sendiri yang serba penuh ujian dan kesedihan. Allah befirman di dalam Al-Qur’an : “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”.(Al-Baqarah :155).

Kalau manusia pada umumnya pasti mendapatkan ujian, betapa pula orang mu’min yang pasti lebih besar pula dia untuk mendapatkan ujian. Sebab itu Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- menegaskan di dalam haditsnya :



] أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ. يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى قَدَرٍ دِيْنِهِ. فَإِنْ كَانَ دِيْنُهُ صَلْبًا اشتَدَّ بَلاَءً. وَإِنْ كَانَ فِي دِيْنِهِِ رِقَّةٌ –يَعْنِي ضَعْفٌ- ابْتَلِي عَلَى قَدَرٍ دِيْنِهِ. وَمَايَزَالُ البَلاَءُ يَنْزِلُ بِالعَبْدِ حَتَّى يَمْشِيَ عَلَى الأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ خِطِيْئَةٌ.[

"Manusia yang paling hebat cobaannya adalah para nabi. Kemudian yang paling sepadan, dan seterusnya dan seterusnya. Seseorang dicoba sesuai kadar agamanya. Jika agamanya kuat, hebatlah cobaannya. Jika dalam agamanya lemah, dia dcoba sesuai ukuran agamanya. Cobaan selalu saja menimpa seorang hamba, sehingga dia berjalan di atas bumi tanpa menanggung sebuah dosapun."

Dari sinilah, Al-Qur’an yang diturunkan di Makkah, ketika orang-orang beriman menderita dengan berbagai macam cobaan dan penyiksaan kaum kafir ketika itu, maka diturunkanlah awal-awal surat Al-‘Ankabut yang berbunyi : “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?”. (QS. Al-‘Ankabut :2). Adakah di sana iman tanpa cobaan dan ujian?! .” Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar. Dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.(QS. Al-‘Ankabut : 3). Begitulah di masa periode perjuangan Islam di Makkah. Adapun di Madinah, setelah umat Islam tinggal di sana dan mereka mengira selamat dari ujian dan cobaan, ternyata datang pula berbagai macam ujian yang bertubi-tubi. Datanglah perang Uhud, datang pula ujian perang Khandaq. Allah befirman : “Disitulah diuji orang-orang mu’min dan digoncangkan dengan goncangan yang sangat”. (QS. Al-Ahzaab : 11) Maka turunlah ayat : “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya : "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”.(QS. Al-Baqarah : 214). Mereka menunggu pertolongan Allah, dan merasa terlambat datangnya sehingga bertanya-tanya : “Bilakah datangnya pertolongan Allah?”. Akhirnya Allah menegaskan : “Ingatlah! Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat!”. Kalau kita memperhatikan kehidupan para nabi, maka yang dapat kita ketahui adalah sarat dengan berbagai macam ujian dan cobaan yang beruntun. Coba perhatikan kehidupan Nabiyullah Yusuf -Alaihissalam-. Di dalamnya sarat dengan peristiwa-peristiwa berdarah yang bertubi-tubi. Peristiwa demi peristiwa. Pertama kali saudara-saudara seayahnya sepakat untuk membunuhnya. Kata mereka : “Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik".(QS. Yusuf :9). Di antara mereka yang paling mempunyai rasa kasih sayang berkata : "Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat.". (QS. Yusuf : 10). Lalu mereka melemparkan Yusuf ke dalam jurang itu seperti halnya mereka melemparkan batu. Kemudian cobaan berikutnya Nabi Allah yang mulia ini dijual seperti halnya mereka menjual kambing. Allah berfirman : “Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf “. (QS. Yusuf : 20). Cobaan berikutnya Yusuf menjadi pelayan, seperti halnya kaum sahaya. Cobaan berikutnya, Yusuf dipenjara seperti halnya kaum penjahat, sehingga tinggal di penjara beberapa tahun lamanya. Ada pula cobaan berat, yaitu ujian digodanya isteri pembesar negeri itu. Begitulah rentetan ujian yang menimpa Nabiyullah Yusuf –Alaihissalam-.

Coba lagi kita menengok ujian yang menimpa Nabiyullah Musa –Alaihissalam-. Sejak dilahirkan beliau sudah harus menjawab ujian. Pada waktu itu dia telah siap untuk disembelih oleh Fir’aun. Kemudian Allah ilhamkan kepada ibunya agar ia menjatuhkannya ke sungai. Allah berfirman : “Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya dari para rasul” (QS. Al-Qashash :7). Maka kehidupan Musa -Alaihissalam- penuh dengan hal-hal yang menyedihkan. Demikianlah kehidupan para nabi, sehingga orang mu’min tidak sepantasnya menunggu kehidupan yang selamat dari setiap kesedihan dan kesusahan. Hidup serba selamat dari kesedihan dan kesusahan bukan tabiat kehidupan dunia., melainkan tabiaat kehidupan di surga, sedang di dunia belum ada surga. Sebab itu, hendaklah orang mu’min bersabar menahan diri di dalam menerima segala beban hidup di dunia ini. Allah berfirman : “Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan”. (QS. Ali ‘Imran :186)

Ujian, susah dan sedih adalah aturan-aturan rabbani yang pasti terjadi kepada setiap orang. Dan setiap orang akan teruji sesuai ukuran imannya.

Kesedihan dan kesusahan akan menimpa manusia atas beberapa faktor. Baik internal ataupun eksternal. Paling berbahaya adalah factor internal, akibat penyakit-penyakit yang ditimbulkan oleh kemajuan dunia kapitalis barat, sehingga menimbulkan keresahan dan kesedihan mendalam bahkan putus asa yang terkadang membuat orang bunuh diri. Terbukti hal ini di Negara Swedia, sebuah negara barat yang terkenal paling sering terjadi orang bunuh diri, walaupun Negara tersebut adalah Negara paling mewah dan tingkat ekonominya paling tinggi. Bahkan di sana terkenal dengan jaminan kesejahteraan sosial bagi kaum lansia, tuna karya, kaum anak dan ibu. Namun demikian, masih saja bertindak dengan tindakan yang paling rendah, yaitu pergi dan bunuh diri apabila dirudung kesedihan, patah hati atau jatuh failid.Berbeda dengan kita umat Islam yang dilindungi oleh iman. Semoga Allah senantiasa melindungi kita.

Manusia sedih berdasarkan tingkat berfikirnya. Susahnya orang kecil tidak seperti susahnya orang besar. Karena itu, kesedihan itu kembalinya kepada faktor-faktor tertentu. Kesedihan dapat menimpa kepada segala lapisan orang, baik dia orang biasa, orang lemah keperibadian atau orang kuat dan sehat. Tapi pada hakekatnya, ketika seseorang dihadapkan kepada ujian, pasti dia berfikir bagaimana cara menanggulanginya. Mampukan dia atau tidak. Biasanya, kalau tidak mampu dia menjadi resah dan sedih. Kesedihan inilah yang terkadang membuat dia terlempar jauh dari agama, serta tidak tahu bagaimana bertawakkal kepada Allah.
*Majalah Qiblati Vol I Edisi 1
Baca Selengkapnya...
Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template