Tampilkan postingan dengan label AQIDAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AQIDAH. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Desember 2011

JIKA KUBUR DIJADIKAN TUHAN!

JIKA KUBUR DIJADIKAN TUHAN!
Disusun oleh: Muslim Atsari

Apakah ada kubur yang dijadikan tuhan? Begitu mungkin pertanyaan yang muncul dari pembaca ketika membaca judul buletin ini. Karena setiap orang tahu, bahwa yang berhak disembah hanyalah Alloh Ta’ala. Sedangkan menyembah selain Alloh merupakan dosa besar yang paling besar. Semoga pertanyaan ini segera sirna, setelah menela’ah apa yang akan kami sampaikan di bawah ini.

ISYARAT NABI ‘alaihi ash-sholatu was salam.
Sesungguhnya Nabi n sudah mengisyaratkan tentang penyembahan terhadap kubur itu di dalam banyak hadits-hadits yang shahih. Antara lain hadits di bawah ini:
عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
Dari ‘Atho’ bin Yasar, bahwa Rosululloh n pernah berdoa: “Wahai Alloh janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala (tuhan yang disembah), besar murka Alloh terhadap orang-orang yang menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka sebagai masjid-masjid”. (HR. Malik, di dalam kitab Al-Muwaththo’, no: 376)

Hadits ini mursal (termasuk lemah), namun dikuatkan oleh hadits-hadits yang lain sehingga menjadi shahih. Oleh Karena itu Syaikh Al-Albani menshahihkannya di dalam kitab Tahdzirus Sajid, hlm: 18, 19. Di antara hadits yang menguatakan adalah hadits di bawah ini:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا لَعَنَ اللَّهُ قَوْمًا اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
Dari Abu Huroiroh, dari Nabi n (beliau pernah berdoa): “Wahai Alloh janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala (tuhan yang disembah), Alloh melaknat orang-orang yang menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka sebagai masjid-masjid” (HR. Ahmad, di dalam kitab Musnad, juz: 2, hlm: 246)

Syaikh Dr. Sholih bin Abdulloh Al-Fauzan –ulama anggota Majlis Fatwa Saudi- berkata: “Nabi n khawatir akan terjadi di kalangan umatnya apa yang telah terjadi pada orang-orang Yahudi dan Nashoro terhadap kubur-kubur Nabi-Nabi mereka, yaitu yang berupa ghuluw (sikap melewati batas) terhadap kubur-kubur itu sehingga kubur-kubur itu menjadi berhala-berhala. Maka beliau memohon kepada Robbnya agar tidak menjadikan kubur beliau demikian itu. Kemudian beliau n mengingatkan sebab kemurkaan dan laknat Alloh menimpa orang-orang Yahudi dan Nashoro, yaitu apa yang telah mereka lakukan terhadap kubur-kubur Nabi-Nabi mereka, sehingga mereka merubahnya menjadi berhala-berhala yang disembah. Maka mereka terjerumus di dalam syirik yang besar yang bertentangan dengan tauhid”. (Al-Mulakhkhos Fii Syarh Kitab At-Tauhid, hlm: 144-145)

MUSYRIKIN ARAB MENYEMBAH KUBUR
Oleh karena itulah Alloh Ta’ala mencela perbuatan orang-orang jahiliyah yang menyembah kepada selain Alloh di dalam banyak tempat di dalam Al-Qur’an. Antara lain di dalam firmanNya:
أَفَرَءَيْتُمُ اللاَّتَ وَالْعُزَّى {19} وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ اْلأُخْرَى {20}
Beritahukan kepadaku (hai orang-orang musyrik) tentang Al-Lata dan Al-Uzza, dan Manah yang ketiga, yang lain itu? (QS. An-Najm (53): 19-20)

Makna ayat ini –sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Qurthubi- : “Beritahukan kepadaku (hai orang-orang musyrik) tentang berhala-berhala ini, apakah dapat memberikan manfaat atau madhorot, sehingga menjadi sekutu-sekutu Alloh Ta’ala?” (Fathul Majid, hlm: 118, penerbit: Dar Ibni Hazm)
Ketiga nama ini adalah tuhan-tuhan yang disembah oleh orang-orang Arab jahiliyah.
Al-Lata adalah batu putih berukir yang padanya terdapat rumah, memiliki tirai-tirai, dan ada penjaganya. Di sekitarnya terdapat lokasi tanah yang diagungkan oleh penduduk kota Thoif. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, surat An-Najm, ayat: 19-20)
Ada juga yang mengatakan bahwa Lata adalah kubur laki-laki yang dahulu dianggap sebagai orang sholih. Imam Bukhori meriwayatkan:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فِي قَوْلِهِ اللَّاتَ وَالْعُزَّى كَانَ اللَّاتُ رَجُلًا يَلُتُّ سَوِيقَ الْحَاجِّ
Dari Ibnu Abbas tentang firman Alloh Ta’ala: “tentang Al-Lata dan Al-Uzza”, (QS. An-Najm (53): 19), beliau mengatakan: “Latta dahulu adalah seorang laki-laki yang membuat adonan tepung untuk orang yang berhaji”. (HR. Bukhori, no: 4859)

Sa’id bin Manshur meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas mengatakan: “(Latta) dahulu adalah seorang laki-laki yang menjual tepung dan mentega di dekat sebuah batu besar, dan membuat adonan di atas batu besar itu. Ketika laki-laki itu mati, suku Tsaqif menyembah batu besar itu karena menagungkan terhadap penjual tepung itu (yakni Latta)”. (Fathul Majid, hlm: 117)

Sa’id bin Manshur juga meriwayatkan bahwa Mujahid mengatakan: “(Latta) dahulu adalah seorang laki-laki yang membuat adonan tepung untuk mereka (orang-orang jahiliyah), tatkala dia telah mati, mereka (orang-orang jahiliyah) semedi (tirakatan) pada kuburnya”.

Pada riwayat lain disebutkan: “Lalu dia (Latta) memberi makan orang-orang yang lewat. Tatkala dia telah mati, mereka menyembahnya. Mereka mengatakan: “Itu adalah Latta”. (Fathul Majid, hlm: 222)

Dari keterangan di atas, ada dua pendapat tentang wujud Latta. Sebagian mengatakan itu adalah sebuah batu, yang lain mengatakan itu wujudnya kubur. Namun pada hakekatnya kedua pendapat itu tidak berlawanan. Oleh karena itulah Syaikh Abdurrohman bin Hasan Alu Syaikh berkata: “Tidak ada kontradiksi antara dua pendapat itu, karena mereka menyembah batu dan kubur tersebut sebagai perbuatan ibadah dan pengangungan (kepada Latta, orang yang mereka anggap sholih-pen). Dan karena semisal ini, dibangun peninggalan-peninggalan (petilasan-petilasan) dan kubah-kubah di atas kubur-kubur, dan dijadikan sebagai berhala-berhala. Dan padanya terdapat keterangan bahwa orang-orang jahiliyah dahulu menyembah orang-orang sholih, patung-patung, dan berhala-berhala”. (Fathul Majid, hlm: 117)

KENYATAAN DI ZAMAN INI
Barangsiapa mengamati keadaan orang-orang yang mengagungkan kubur orang-orang yang dianggap sebagai wali di zaman ini, akan mendapati berbagai bentuk kemusyrikan pada mereka, dengan ringkas sebagai berikut:
1)Anggapan mereka bahwa wali dikuburnya memiliki tindakan/kekuasaan di alam ini. Seperti: memberi manfaat, menimpakan musibah, menyembuhkan penyakit, melapangkan kesusahan, memenuhi permintaan dan hajat, dan semacamnya yang termasuk syirik rububiyah.
2)Perbuatan memohon pertolongan, kesembuhan, perlindungan, keberkahan, menyembelih binatang untuknya, berthowaf (mengelilinginya), berhaji (ziarah) kepanya, dan semacamnya yang termasuk syirik uluhiyah.
3)Anggapan bahwa wali di kuburnya sebagai An-Nafi Adh-Dhoor (Yang mendatangkan manfaat dan Yang menolak musibah), Al-Wahhab (Yang Maha memberi), Ar-Rozzaq (Yang memberi rizqi), dan semacamnya yang termasuk syirik asma’ was sifat. (Diringkas secara bebas dari “Kuburan Agung”, hlm: 42-43, karya Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairi, penerbit: Darul Haq, Jakarta)

Orang-orang yang mengagungkan kubur itu melewati beberapa jenjang sampai mereka menyembahnya. Jenjang-jenjang itu antara lain sebagai berikut: Taqdis (mengkultuskan) orang yang di kubur; Menjadikan penghuni kubur sebagai wasilah (perantara) kepada Alloh; Meyakini keberkahan kubur; Istighotsah dan memohon hajat; Menjadikan kubur sebagai berhala (tuhan yang disembah); Dan menjadikan kubur sebagai tempat yang diziarahi. (Diringkas dari “Kuburan Agung”, hlm: 35-37)
Di sini kami nukilkan sebagian kenyataan pada umat ini yang menunjukkan jauhnya sebagian orang yang mengaku beragama Islam dari ajaran Islam.

1)Di Ma’an, Yordania, ada kuburan khusus yang dianggap menyembuhkan penyakit wanita!
2)Di Thontho, Mesir, ada kuburan khusus yang dianggap menyembuhkan kemandulan, penyakit anak-anak, dan rematik!
3)Pada waktu negeri Syam diserbu bangsa Tartar, para penyembah kubur keluar meminta tolong kepada kuburan!
4)Ketika pasukan Rusia menyerbu kota Bukhoro, manusia berhamburan beristighotsah (meminta dihilangkan musibah) kepada kuburan Syah Naqsaband!
5)Di Fayyum, Mesir, para penyembah kubur mengklaim bahwa yang meneylamatkan kota dari kehancuran selama perang dunia kedua adalah wali Ar-Rubi, berkat pertolongannya arah bom dipindahkan ke laut Yusuf! (Diringkas dari “Kuburan Agung”, hlm: 32-33)
6)Di Pulau Jawa khususnya, banyak orang yang meminta berkah ke kuburan para wali songo!

Selain itu, masih banyak di berbagai tempat orang-orang mengagungkan kubur-kubur secara berlebihan, dan mengangkat kubur-kubur itu sebagai sekutu-sekutu bagi Alloh. Maha Suci Alloh dari kemusyrikan mereka. Semoga Alloh memberikan bimbinganNya kita dan kaum muslimin menuju apa yang Dia cintai dan ridhoi. Aamiin.
Baca Selengkapnya...

TAUHID SARANA MASUK SORGA

TAUHID SARANA MASUK SORGA
Disusun oleh Muslim Atsari

Tauhid memiliki kedudukan yang sangat agung dan utama di dalam agama Islam, karena sesungguhnya tauhid merupakan inti ajaran Islam ini. Bahkan tauhid adalah hikmah diciptakannya langit dan bumi oleh Alloh Ta’ala. Dia berfirman:
اللهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ اْلأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ اْلأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا
Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasannya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. (QS. Ath-Thalaq (65):12)

Imam Ibnul Qoyyim t berkata: “Sesungguhnya Allah ‘Azza Wa Jalla telah mengutus para RasulNya, menurunkan kitab-kitabNya, menciptakan langit-langit dan bumi, agar Dia dikenal, diibadahi, ditauhidkan, dan agar agama itu semuanya bagi Allah, semua ketaatan untukNya, dan doa hanya untukNya. Sebagaimana Alloh Ta’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Adz-Dzariyat (51):56)”.

Beliau juga mengatakan: “Allah memberitakan bahwa tujuan penciptaan dan perintah adalah agar dikenal nama-namaNya dan sifat-sifatNya, hanya Dia yang diibadahi, tidak disekutukan”. (Ad-Da’ Wad Dawa’, hal:196, tahqiq Syeikh Ali bin Hasan, penerbit: Dar Ibnil Jauzi)

Imam Ibnu Katsir t berkata pada tafsir ayat di atas (surat Adz-Dzariyat, ayat: 56): “Makna ayat ini bahwa Allah Tabaraka Wa Ta’ala menciptakan seluruh hamba agar mereka beribadah kepadaNya semata, tidak ada sekutu bagiNya. Maka barangsiapa mentaatiNya, niscaya Dia membalasnya dengan balasan yang paling sempurna. Tetapi barangsiapa bermaksiat kepadaNya, niscaya Dia menyiksanya dengan siksaan yang sangat pedih.” (Tafsir Al-Quranil ‘Azhim)

TAUHID INTI DAKWAH ROSUL
Oleh karena itulah tidak aneh apabila tauhid juga merupakan sebab diutusnya para rasul Allah dan merupakan inti serta pembuka dakwah mereka.
Imam Ibnu Abil ‘Izzi Al-Hanafi t berkata: “Ketahuilah bahwa tauhid merupakan awal dakwah seluruh para Rasul, awal tempat singgah perjalanan, dan awal tempat berdiri yang seorang hamba yang berjalan menuju Allah berdiri di atasnya”. (Minhatul Ilahiyah Fi Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal:45)
Allah berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلاَلَةُ فَسِيرُوا فِي اْلأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. 16:36)

Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t berkata di dalam Tafsirnya pada ayat ini: “Allah Ta’ala memberitakan bahwa hujjahNya telah tegak atas seluruh umat, dan bahwasanya tidak ada satu umat yang telah berlalu atau datang kemudian kecuali Allah telah mengutus Rasul padanya. Semua Rasul itu sepakat pada satu ajakan, satu agama, yaitu: beribadah kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya.” (Taisir Karimir Rahman Fi Tafsir Kalamil Mannan)
Pada ayat lain Allah berfirman:
وَ مَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلآ أَنَا فَاعْبُدُونِ {25}
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Ilah(yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah Aku". (QS. 21:25)

Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t berkata di dalam Tafsirnya pada ayat ini: “Seluruh para Rasul –sebelummu (Muhammad Rasulullah)- bersama kitab-kitab mereka, inti dan pokok risalah mereka adalah perintah: beribadah kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, dan penjelasan bahwa Allah adalah ilah yang haq, al-ma’bud (yang berhak diibadahi), dan bahwa peribadahan kepada selainNya adalah batil .” (Taisir Karimir Rahman Fi Tafsir Kalamil Mannan)

TAUHID JALAN KE SORGA, SELAMAT DARI NERAKA
Dengan keterangan di atas, juga nampak jelas bagi kita, mengapa tauhid merupakan satu-satunya sarana jalan ke sorga.
Rasulullah n bersabda:
مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةُ
“Barangsiapa bersyahadat (bersaksi) -Laa ilaaha illa Allah, niscaya dia masuk sorga”. (HSR. Al-Bazzar dari Ibnu ‘Umar. Lihat: Ash-Shahihah no:2344; Shahihul Jami’ no:6318)

Bahkan orang yang bersyahadat tauhid dengan menjalankan konsekwensinya mendapatkan jaminan masuk sorga dengan derajat yang sesuai dengan amalannya. Nabi Muhammad n bersabda:
مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ
“Barangsiapa bersyahadat (bersaksi) Laa ilaaha illa Allah (Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Alloh), tidak ada sekutu bagiNya; dan bahwa Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya; dan bahwa Isa adalah hambaNya, RasulNya, dan kalimatNya yang Dia berikan kepada Maryam, serta ruh (ciptaan)Nya; dan bahwa sorga benar-benar ada; dan bahwa neraka benar-benar ada, niscaya Allah masukkan ke dalam sorga sesuai dengan amalannya.” (HSR. Bukhari, no: 3435; Muslim, 28; dll, dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit)

Demikian juga jaminan bagi orang yang bersyahadat tauhid dengan keselamatan dari neraka. Rosululloh n bersabda:
مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ , حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ النَّارَ
“Barangsiapa bersyahadat (bersaksi) Laa ilaaha illa Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, niscaya Allah haramkan neraka atasnya.” (HSR. Ahmad, Muslim, Tirmidzi, dari ‘Ubadah. Shahihul Jami’ no:6319)

Juga sabda beliau n :
فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ
“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka terhadap orang yang berkata Laa ilaaha illa Allah, mencari wajah Allah dengannya.” (HSR. Bukhari no:425, 667, 686, 6423, 7938; Muslim no:33, 657; dari ‘Itban bin Malik)

SORGA HAROM BAGI ORANG MUSYRIK
Sebaliknya orang yang menyekutukan Alloh, maka tidak ada jalan baginya untuk masuk sorgaNya. Bahkan surga diharamkan baginya. Alloh Ta’ala berfirman:
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَابَنِى إِسْرَاءِيلُ اعْبُدُوا اللهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam", padahal Al-Masih (sendiri) berkata:"Hai Bani Israil, sembahlah Allah Rabbku dan Rabbmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. 5:72)

Demikian juga orang-orang yang tidak beriman kepada Alloh dan RosulNya, mustahil masuk ke dalam sorgaNya. Alloh Ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِئَايَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لاَتُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَآءِ وَلاَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ {40}
Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lobang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. (QS. 7:40)

Dengan keterangan ini, maka kita mengetahui alangkah besarnya nikmat iman dan tauhid yang Alloh limpahkan kepada hamba-hambaNya. Semoga Alloh selalu membimbing kita di atas kebaikan.
Baca Selengkapnya...

SIHIR, DOSA BESAR!

SIHIR, DOSA BESAR!
Disusun oleh Muslim Atsari

Sihir termasuk perbuatan dosa besar dengan ijma’ (kesepakatan) ulama. Baik mempelajari, mengajarkan, melakukan, atau minta disihirkan, semua terlarang.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ
Dari Abu Huroiroh, dari Nabi n , beliau bersabda: “Jauhilah tujuh (dosa) yang membinasakan!” Mereka (para sahabat) bertanya: “Wahai Rosululloh, apakah itu?” Beliau menjawab: “Syirik kepada Alloh; sihir; membunuh jiwa yang Alloh haromkan kecuali dengan haq; memakan riba; memakan harta anak yatim; berpaling dari perang yang berkecamuk; menuduh zina terhadap wanita-wanita merdeka yang menjaga kehormatan, yang beriman, dan yang bersih dari zina”. (Hadits Shohih Riwayat Bukhari, no: 3456; Muslim, no: 2669)
Namun, apakah hakekat sihir itu?

MAKNA SIHIR
Secara bahasa Arab, sihir artinya: sesuatu yang samar atau tersembunyi sebabnya. Sedangkan secara istilah syara’, maka para ulama memberikan definisi yang berbeda-beda, namun hakekatnya sama. Definisi paling lengkap yang kami dapatkan yaitu penjelasan imam ahli tafsir, imam Al-Aluusi -semoga Alloh merahmatinya-. Beliau berkata: “Yang dimaksudkan dengan sihir adalah perkara aneh yang menyerupai perkara luar biasa, padahal bukan perkara luar biasa karena dapat dipelajari, untuk mendapatkannya dengan mendekatkan diri kepada syaithon, dengan cara melakukan perkara-perkara buruk, yang berupa perkataan: seperti mantra-mantra yang di dalamnya terdapat kata-kata syirik, pujian kepada syaithon, dan kekuasaan syaithon, dan berupa perbuatan, seperti: beribadah kepada bintang-bintang, menekuni kejahatan, dan seluruh kefasikan, dan berupa keyakinan, seperti: anggapan baik terhadap apa-apa yang mendekatkan diri kepada syaithon, kecintaannya kepada syaithon.

Sihir itu tidaklah berjalan dengan baik kecuali dengan apa yang mencocoki syaithon di dalam keburukan dan kekejian jiwa, karena kesesuaian merupakan syarat saling mendekat dan membantu. Sebagaimana para malaikat tidak akan membantu kecuali kepada orang-orang yang baik, yang menyerupai para malaikat di dalam menekuni ibadah dan mendekatkan diri kepada Alloh Ta’ala dengan perkataan dan perbuatan, demikian pula syaithon tidak akan membantu kecuali kepada orang-orang yang jahat, yang menyerupai mereka di dalam kekejian dan keburukan, yang berupa perkataan, perbuatan, dan keyakinan. Dengan ini tukang sihir berbeda dengan Nabi dan wali”. (Ruhul Ma’ani 1/338; dinukil dari ‘Alamus Sihri was Sya’wadzah, hlm: 152-153)

APAKAH SIHIR ADA HAKEKATNYA?
Para ulama Ahli Sunnah sepakat bahwa sihir ada hakekatnya dan kenyataannya. Walaupun kelompok Mu’tazilah dan orang-orang yang terpengaruh dengan mereka mengingkari hakekat sihir, namun pengingkaran mereka tidak ada nilainya. Di antara dalil-dalilnya adalah:
1-Berita Alloh tentang adanya sihir, sedangkan berita Alloh adalah haq. (QS. Al-Baqoroh (2):102)
2-Perintah Alloh untuk berlindung dari kejahatan tukang sihir. (QS. Al-Falaq: 4)
3-Larangan dari Nabi untuk mempelajari sihir dan mengamalkannya.
4-Ijma’ sahabat. Al-Qorofi berkata: “Sihir dan berita tentang sihir telah diketahui oleh para sahabat –semoga Alloh meridhoi mereka semua- , mereka sepakat atas adanya sebelum munculnya kelompok Qodariyah (Mu’tazilah)”. Al-Furuuq, karya Al-Qorofi, juz 4, hlm: 150; dinukil dari ‘Alamus Sihri was Sya’wadzah, hlm: 92)
Imam Ibnul Qoyyim membantah pendapat Mu’tazilah yang mengatakan: “Sesungguhnya seluruh sihir hanyalah takh-yiil (membuat khayalan)”, beliau berkata: “Ini menyelisihi riwayat-riwayat mutawatir dari para sahabat dan Salaf (orang-orang zaman dahulu yang sholih), dan telah disepakati oleh ahli fiqih, ahli tafsir, dan ahli hadits. Dan yang dikenal oleh kebanyakn ahli fiqih”. (Tafsir Al-Qoyyim, hlm: 571; dinukil dari ‘Alamus Sihri was Sya’wadzah, hlm: 92)
5-Kejadian Nabi n pernah disihir. (Hadits Shohih Riwayat Bukhari, no:5766; Muslim, no: 2189)
6-Kenyataan sihir di zaman Nabi Musa, dari tukang-tukang sihir yang dikumpulkan oleh Fir’aun (QS. Al-A’rof, ayat: 116)
7-Kenyataan di setiap zaman dan tempat. Disebutkan di dalam kitab Sihir, hlm: 11, karya Muhammad Muhammad Ja’far bahwa sihir merupakan kenyataan yang terjadi, benar-benar ada, tidak ada keraguan tentangnya. Sihir ini telah disebutkan seluruh kitab dari langit. Sihir diwarisi oleh orang-orang Babilonia, Mesir, India, Cina, dan lainnya di dalam tulisan-tulisan, lukisan-lukisan, patung-patung, dan peninggalan-peninggalan mereka. Sihir juga dimuat di dalam catatan-catatan dan data-data pengadilan-pengadilan di Inggris, Perancis, Itali, Belanda, Rusia, dan Portugis, dan lainnya. Dan disebutkan di dalam pengakuan-pengakuan tukang-tukang sihir laki-laki dan perempuan pada waktu pengadilan mereka. Juga ada di dalam warisan para tukang sihir itu, yang berupa alat-alat, bahan-bahan, dan perjanjian-perjanjian dengan syaithon. Itu masih tersimpan di dalam perpustakaan-perpustakaan umum atau museum-museum”. (Dinukil dari ‘Alamus Sihri was Sya’wadzah, hlm: 93-94)

MACAM-MACAM SIHIR
Untuk melengkapi masalah sihir ini, kita juga perlu mengetahui macam-macam sihir yang ada:
1-Sihir hakiki: yaitu sihir yang ada kenyataannya, seperti sihir yang mempengaruhi badan, sehingga menjadikan sakit, atau membunuh (inilah yang disebut dengan tenung, santet, teluh, dan semacamnya-pen) atau memisahkan dua orang yang saling mencintai (ini disebut shor-f), atau mengumpulkan dua orang yang saling membenci (ini disebut dengan ‘ath-f, aji pengasihan, pelet, dan semacamnya).
Sihir hakiki ini ada dua macam: sihir yang terjadi dengan niat tukang sihir; dan sihir yang terjadi dengan alat (semacam benda-benda yang telah diberi mantra atau rajah).
2-Sihir takh-yili: yaitu tukang sihir menggunakan kekuatan daya khayalnya, lalu dia menggambarkan khayalan-khayalan, atau tiruan-tiruan, atau bentuk-bentuk, lalu dia tampilkan kepada indra orang-orang yang melihat, sehingga orang-orang yang melihat seolah-olah melihatnya ada pada kenyataan, padahal itu tidak ada. Inilah yang disebut dengan hipnotis, atau semacamnya. Seperti tukang sihir yang memperlihatkan taman-taman, sungai-sungai, istana-istana, padahal itu semua tidak ada, itu hanyalah khayalan pada pandangan mata. Atau seperti tukang sihir yang menikam dirinya dengan pedang, atau memakan api, atau berjalan di atas api, namun hal itu tidak berbekas padanya. Ini semua hanyalah khayalan. Atau seseorang datang dengan membawa kertas biasa, lalu dia menyihir orang lain, sehingga dia melihatnya sebagai uang kertas. Atau dia membawa besi, tetapi orang yang disihir melihatnya sebagai emas. Atau dia membawa belalang, tetapi orang yang disihir melihatnya sebagai kambing. Dan setelah orang itu pergi, barang-barang itu kembali seperti semula. Ini semua merupakan sihir takh-yili.
3-Sihir majazi, yaitu kejadian yang samar sebabnya karena dilakukan dengan kecepatan gerakan tangan, atau muslihat ilmiyah, atau kedustaan, atau penemuan-penemuan yang diketahui oleh tukang sihir itu sebelum orang-orang lain. Inilah yang disebut dengan sulap, atau semacamnya. Demikian juga namimah, bayan (penjelasan), dan semacamnya termasuk sihir majazi. Yakni disebut sihir karena pengaruhnya seperti sihir tetapi bukan sihir. Wallahu a’lam.

CATATAN:
Kemudian yang perlu diketahui, bahwa istilah sihir di dalam syari’at adalah sihir yang pelakunya minta tolong kepada syaithon.
Syaikh Umar Sulaiman Al-Asyqor –hafizhohulloh- berkata: “Sesungguhnya sihir hakiki adalah sihir yang pelakunya minta tolong kepada syaithon. Robb kita -Yang ilmuNya meliputi segala sesuatu- telah memberitakan bahwa syaithon-syaithon itu yang mengajarkan sihir...(surat Al-Baqoroh; 102)

Dan telah mutawatir berita-berita dari orang-orang yang menyelidiki keadaan-keadaan sihir dan tukang sihir yang menetapkan hubungan tukang-tukang sihir dengan syaithon.
Para tukang sihir mendekatkan diri kepada syaithon dengan apa yang mereka sukai, yang berupa kepercayaan-kepercayaan yang rusak, perbuatan-perbuatan yang sesat, memakan barang-barang haram dan buruk.

Lalu syaithon menolong mereka terhadap tujuan-tujuan mereka. Oleh karena itulah para cerdik dari ulama kita mendefinisikan sihir dengan: “perbuatan untuk mendekatkan diri kepada syithon dan (terjadi) dengan pertolongan syaithon. Perkara itu semua merupakan hakekat sihir”. (Kitab ‘Alamus Sihri was Sya’wadzah, hlm: 152) Wallahul Musta’an.

Rujukan:
1-Kitab ‘Alamus Sihri was Sya’wadzah, karya Syaikh Umar Sulaiman Al-Asyqor.
2-Sihru was Sya’wadzah wa Atsaruhuma ‘alal Fardi wal Mujtama’, karya Syaikh Sholih bin Fauzan Al-Fauzan. Dll
Baca Selengkapnya...

SEBAGIAN UMAT MENYEMBAH BERHALA

SEBAGIAN UMAT MENYEMBAH BERHALA
Disusun oleh Muslim Atsari

Sebagian orang menyangka bahwa jika seseorang sudak masuk Islam, mengikrarkan kalimat tauhid Laa ilaaha ila Alloh, maka dia sudah bebas dari kemusyrikan. Demikian juga sebagian yang lain menyangka bahwa di kalangan orang Islam tidak ada kemusyrikan. Sesungguhnya anggapan dan persangkaan di atas tidak benar. Bahkan Nabi Muhammad n telah memberitakan bahwa sebagian umat ini akan mengikuti jalan-jalan orang-orang ahli kitab zaman dahulu. Sedangkan mereka dahulu telah menyembah berhala. Inilah hadits yang shohih yang menerangkannya:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ؟
Dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa Nabi n bersabda: “Kamu benar-benar akan mengikuti jalan-jalan orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga seandainya mereka melewati lobang dhob (satu jenis kadal pasir), kamu benar-benar juga akan melewatinya”. Kami (para sahabat) bertanya: “Wahai Rosululloh, apakah anda maksudkan orang-orang Yahudi dan Nashoro?” Beliau menjawab: “Siapakah selain mereka?” (HR. Bukhari, no: 3456; Muslim, no: 2669)

Syaikh Abdurrohman bin Hasan Alu Syaikh berkata: “Nabi n menghendaki bahwa umatnya tidaklah meninggalkan seseuatupun yang telah dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nashoro kecuali umat ini melakukan semuanya. Mereka tidak akan meninggalkan sesuatupun darinya. Oleh karena itulah Sufyan bin ‘Uyainah berkata: “Orang yang rusak di antara ulama kita, maka padanya terdapat perserupaan dengan Yahudi. Dan orang yang rusak di antara ahli ibadah kita, maka padanya terdapat perserupaan dengan dan Nashoro”. Alangkah banyaknya dua kelompok ini. Akan tetapi di antara rohmat Alloh dan nikmatNya, tidak menjadikan umat ini tidak akan bersatu di atas kesesatan”. (Fathul Majid, hal: 240, penerbit: Dar Ibni Hazm)
Maka ini merupakan kaedah yang penting, bahwa apa yang terjadi pada Yahudi dan Nashoro, juga akan terjadi pada umat Islam.

YAHUDI DAN NASHORO MENYEMBAH SELAIN ALLOH
Alloh berfirman memberitakan tentang orang-orang Yahudi dan Nashoro yang telah mengangkat orang-orang ‘alim dan rahib-rahib mereka sebagai “tuhan-tuhan” selain Alloh. Dia berfirman:
اِتَّخَذُوْا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللهِ وَالْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَآأُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا إِلَهًا وَاحِدًا لآإِلَهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ {31}
Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah, dan (juga mereka menjadikan Rabb ) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At-Taubah (9): 31)

Ayat ini dijelaskan oleh Nabi n di dalam sebuah haditsnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Adi bin Hatim sebagai berikut:
عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي عُنُقِي صَلِيبٌ مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَ يَا عَدِيُّ اطْرَحْ عَنْكَ هَذَا الْوَثَنَ وَسَمِعْتُهُ يَقْرَأُ فِي سُورَةِ بَرَاءَةٌ ((اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ)) قَالَ أَمَا إِنَّهُمْ لَمْ يَكُونُوا يَعْبُدُونَهُمْ وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أَحَلُّوا لَهُمْ شَيْئًا اسْتَحَلُّوهُ وَإِذَا حَرَّمُوا عَلَيْهِمْ شَيْئًا حَرَّمُوهُ
Dari ‘Adi bin Hatim, dia berkata: “Aku mendatangi Nabi n , sedangkan pada leherku terdapat (kalung) salib yang terbuat dari emas. Maka beliau bersabda: “Hai ‘Adi, buanglah darimu berhala itu!” Dan aku mendengar beliau membaca (Ayat Al-Qur’an) di dalam surat Baro’ah (At-Taubah): “Mereka (orang-orang Yahudi dan Nashrani) menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb (tuhan-tuhan) selain Allah”, beliau bersabda: “Sesungguhnya mereka itu (para pengikut) tidaklah beribadah kepada mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka). Akan tetapi jika mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka) menghalalkan sesuatu untuk mereka, merekapun menganggap halal. Jika mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka) mengharamkan sesuatu untuk mereka, merekapun menganggap haram”. (HR. Tirmidzi, no: 3095; dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Alloh Ta’ala juga berfirman mengenai orang-orang Yahudi:
قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُم بِشَرٍّ مِّن ذَلِكَ مَثُوبَةً عِندَ اللهِ مَن لَّعَنَهُ اللهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُوْلاَئِكَ شَرُُّ مَّكَانًا وَأَضَلُّ عَن سَوَآءِ السَّبِيلِ {60}
Katakanlah:"Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik ) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, diantara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi (dan orang yang) menyembah Taghut". Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (QS. 5:60)

Demikian juga orang-orang Nashoro. Mereka memiliki kebiasaan menjadikan kubur orang sholih sebagai masjid, kemudian mereka menyembah orang sholih itu. Oleh karena itulah mereka itu seburuk-buruk makhluk, sebagaimana ditegaskan di dalam hadits-hadits yang shohih, antara lain:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ لَمَّا اشْتَكَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَتْ بَعْضُ نِسَائِهِ كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا بِأَرْضِ الْحَبَشَةِ يُقَالُ لَهَا مَارِيَةُ وَكَانَتْ أُمُّ سَلَمَةَ وَأُمُّ حَبِيبَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَتَتَا أَرْضَ الْحَبَشَةِ فَذَكَرَتَا مِنْ حُسْنِهَا وَتَصَاوِيرَ فِيهَا فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ أُولَئِكِ إِذَا مَاتَ مِنْهُمْ الرَّجُلُ الصَّالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ثُمَّ صَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّورَةَ أُولَئِكِ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ
Dari ‘Aisyah –semoga Alloh meridhoinya-, dia berkata: “Ketika Nabi s sakit, sebagian istri-istri Nabi n menyebutkan sebuah gereja yang mereka lihat di negeri Habasyah, yang dinamakan gereja Mariyah. Dahulu Ummu Salamah dan Ummu HAbibah –semoga Alloh meridhoikeduanya- pernah mendatangi negeri Habasya. Keduanya menyebutkan tentang keindahannya dan patung-patung/gambar-gambar yang ada di dalamnya. Maka Nabi n mengankat kepalanya, lalu bersabda: “Mereka itu, jika ada seorang yang sholih di antara mereka mati, mereka membangun masjid di atas kuburnya, kemudian membuat patung/gambar orang sholih itu di dalamnya. Mereka itu seburuk-buruk manusia di sisi Alloh”. (HSR. Bukhari no:1341; Muslim no:528)

BERITA NABI n
Selain perjelasan di atas, maka kejadian sebagian umat ini ada yang menyembah selain Alloh merupakan berita pasti yang datang dari Nabi n .
عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى تَعْبُدَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي الْأَوْثَانَ
Dan waktu kiamat tidak akan datang sampai kabilah-kabilah dari umatku bergabung dengan orang-orang musyrik dan sampai kabilah-kabilah dari umatku menyembah berhala-berhala. (HR. Abu Dawud, no: 4252; Ahmad 5/278, 284; Al-Baihaqi, no: 3952. Dishohihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani)

Syaikh Abdurrohman bin Hasan Alu Syaikh berkata: “Ini bantahan terhadap orang yang mengatakan (dengan perkataan) yang berbeda dengan isi hadits ini, yaitu diantara orang-orang menyembah kubur, orang-orang yang mengingkari terjadinya kemusyrikan pada sebagian umat dengan sebab menyembah berhala. Hal itu karena kebodohan mereka terhadap hakekat tauhid dan kemusyrikan yang bertentangan dengannya. Padahal tauhid merupakan perintah yang paling besar, sedangkan syirik merupakan dosa yang paling besar”. (Fathul Majid, hlm: 245)
Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin berkata: “Ini telah terjadi. Pada setiap daerah kaum muslimin, (sebagian) mereka menyembah kubur, mengagungkan para penghuni kubur, meminta kebutuhan/hajat dan harapan kepada mereka, dan berlindung kepada mereka”. (Al-Qoulul Mufid 1/493)
Di dalam hadits lain, Nabi n bersabda:
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَضْطَرِبَ أَلَيَاتُ نِسَاءِ دَوْسٍ عَلَى ذِي الْخَلَصَةِ وَذُو الْخَلَصَةِ طَاغِيَةُ دَوْسٍ الَّتِي كَانُوا يَعْبُدُونَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ
“Tidak akan datang kiamat sampai pantat-pantat wanita-wanita suku Daus bergoyang-goyang di sekitar Dzul Kholashoh”, dan Dzul Kholashoh adalah patung suku Daus yang mereka sembah di zaman jahiliyah. (HR. Bukhori, no: 7116; Muslim, no: 2906; dari Abu Huroiroh)

Setelah kita semua mengetahui hal ini, maka sepantasnya kita waspada. Jangan sampai termasuk golongan orang-orang yang diberitakan di dalam hadits Nabi n ini. Wallohul Musta’an.
Baca Selengkapnya...

PERDUKUNAN

PERDUKUNAN
Disusun oleh Muslim Atsari

Termasuk iman kepada Alloh adalah beriman bahwa hanya Alloh yang mengetahui seluruh perkara ghaib. Alloh Ta’ala berfirman:
قُل لاَّ يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ
Katakanlah:"Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah". (QS. 27:65)

Kemudian terkadang Alloh Ta’ala memberitahukan sebagian perkara ghoib itu kepada rosul yang Dia kehendaki lewat wahyuNya. Alloh Ta’ala berfirman:
عَالِمَ الْغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا {26} إِلاَّ مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا
(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. (QS. 72:26) Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS. 72:27)

Yang dimaksud perkara ghoib yaitu perkara yang tidak dapat dijangkau oleh panca indra manusia. (Lihat: ‘Alamus Sihr, hal: 263, karya Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqor).

LIMA KUNCI PERKARA GHOIB
Dan ada lima kunci perkara ghoib yang hanya diketahui oleh Alloh Ta’ala. Alloh berfirman:
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَيَعْلَمُهَآ إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَافِي الْبَرِّوَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ يَعْلَمُهَا وَلاَحَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ اْلأَرْضِ وَلاَرَطْبٍ وَلاَيَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مًّبِينٍ {59}
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melaimkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. 6:59)

Syeikh Sholih Al-Fauzan menyatakan bahwa firman Alloh “Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri”, maka barangsiapa mengaku-ngaku mengetahui sesuatu darinya, dia telah kafir”. (Syarah Aqidah Wasitiyah, hlm: 105; karya Syaikh Sholih Al-Fauzan; penerbit Darul ‘Aqidah)
Lima kunci perkara ghoib ini dijelaskan oleh Nabi Muhammad n di dalam haditsnya yang shohih, sebagai berikut:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Dari Abdulloh bin Umar, bahwa Rosululloh n bersabda: Kunci-kunci semua yang ghaib ada lima, (beliau membaca ayat, surat Luqman: 34): Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim.Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok.Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (HR. Bukhori, no: 4627)

Syeikh Sholih Al-Fauzan menyatakan: “Maka barangsiapa mengaku-ngaku (mengetahui) perkara ghoib dengan sarana apa saja –selain yang dikecualikan oleh Alloh kepada para rosulNya (lewat wahyuNya)- maka dia pendusta, kafir. Baik hal itu dengan sarana membaca telapak tangan, gelas, perdukunan, sihir, perbintangan/zodiak, atau lainnya”. .*)*)[Lihat: kitab At-Tauhid, hal: 30, karya Syeikh Sholih Al-Fauzan, penerbit Darul Qosim, cet: 2, th: 1421 H / 2000 M]

Beliau juga berkata: “Maka barangsiapa mengaku-ngaku mengetahui perkara ghoib atau membenarkan orang yang mengaku-ngaku hal itu, maka dia musyrik, kafir. Karena dia mengaku-ngaku menyekutui Alloh dalam perkara yang termasuk kekhususan-kekhusuanNya” .*)*)[Lihat: kitab At-Tauhid, hal:31, karya Syeikh Sholih Al-Fauzan, penerbit Darul Qosim]

LARANGAN MENDATANGI DUKUN!
Karena yang mengetahui perkara ghoib hanya Alloh, maka syari’at Islam melarang umatnya mendatangi dukun. Yang dimaksudkan dukun di sini adalah yang bahasa arabnya adalah kaahin atau ‘arraf. Yaitu orang yang mengaku-ngaku mengetahui perkara ghoib, apa yang akan terjadi, tempat barang hilang, pencuri barang, isi hati orang, dan semacamnya. Walaupun di masyarakat dikenal dengan sebutan kyai, orang pintar, orang tua, atau lainnya.

Mendatangi dukun seperti ini harom hukumnya. Barangsiapa mendatanginya dan bertanya kepadanya, maka sholatnya selama 40 hari tidak diterima oleh Alloh Ta’ala. Nabi n bersabda:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
Barangsiapa mendatangi ‘arraaf lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, tidak akan diterima darinya sholat 40 hari. (HR. Muslim, no: 2230)

Dalam hadits lain, Nabi n bersabda:
مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوْ امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Barangsiapa mendatangi (yakni menggauli/mengumpuli) wanita haidh atau mendatangi (yakni menggauli/mengumpuli) wanita pada duburnya atau mendatangi kaahin (dukun), maka dia telah kafir kepada (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepada Muhammad n “. (HR. Tirmidzi; Abu Dawud; dll)

Syeikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin t menjelaskan bahwa bertanya kepada ‘arraaf (dukun) dan semacamnya ada beberapa macam: *)*)[Diringkas dari Al-Qoulul Mufid ‘ala Kitab At-Tauhid 2/49, karya Syeikh Al-‘Utsaimin, penerbit: Darul ‘Ashimah, cet: 1, th: 1415 H]
1.Sekedar bertanya saja. Ini hukumnya harom, berdasarkan hadits: “Barangsiapa mendatangi ‘arraaf…”. Penetapan hukuman terhadap pertanyaannya menunjukkan terhadap keharomannya. Karena tidak ada hukuman kecuali terhadap perkara yang diharomkan.
2.Bertanya kepada dukun, meyakininya, dan menganggap (benar) perkataannya. Ini kekafiran, karena pembenarannya terhadap dukun tentang pengetahuan ghoib, berarti mendustakan terhadap Al-Qur’an.
3.Bertanya kepada dukun untuk mengujinya, apakah dia orang yang benar atau pendusta, bukan untuk mengambil perkataannya. Maka ini tidak mengapa, dan tidak termasuk (larangan) di dalam hadits (di atas). Karena Nabi n pernah bertanya kepada Ibnu Shoyyad untuk mengujinya.
4.Bertanya kepada dukun untuk menampakkan kelemahan dan kedustaannya. Ini terkadang (hukumnya) wajib atau dituntut.

PERKATAAN DUKUN TERKADANG BENAR?
Telah nyata larangan agama Islam, tetapi mengapa banyak orang yang percaya terhadap perkataan dukun? Ternyata sebagian manusia itu terpedaya dengan sebab perkataan dukun itu terkadang sesuai dengan kenyataan.

Sesungguhnya sebagian dukun itu meminta pertolongan kepada jin untuk mengetahui pencuri, tempat barang hilang, dan sebagainya. Jin-jin itu juga memberitahukan bahwa Fulan akan datang hari ini atau besok, bahwa Fulan datang dengan keperluan ini atau itu, dan semacamnya. Jika kahin berkata benar, dalam perkara yang akan terjadi, maka itu adalah satu kalimat dari jin hasil copetan dari malaikat.
Atau dukun mengucapkan kalimat-kalimat umum yang bisa ditafsirkan dengan semua kejadian. Atau mereka bersandar kepada pengalaman dan kebiasaan, atau persangkaan. Namun sesungguhnya kebenaran dari perkataan dukun itu sangat sedikit dibandingkan dengan kebohongannya.

Hal ini juga disebutkan di dalam hadits-hadits shohih yang lain, antara lain sebagai berikut:
عَنْ عُرْوَةَ يَقُولُ قَالَتْ عَائِشَةُ سَأَلَ أُنَاسٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْكُهَّانِ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسُوا بِشَيْءٍ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَإِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ أَحْيَانًا الشَّيْءَ يَكُونُ حَقًّا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِلْكَ الْكَلِمَةُ مِنْ الْجِنِّ يَخْطَفُهَا الْجِنِّيُّ فَيَقُرُّهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ قَرَّ الدَّجَاجَةِ فَيَخْلِطُونَ فِيهَا أَكْثَرَ مِنْ مِائَةِ كَذْبَةٍ
Dari ‘Urwah, dia mengatakan: ‘Aisyah berkata: “Orang-orang bertanya kepada Rosululloh n tentang para kahin, maka Rosululloh n berkata kepada mereka: “Mereka tidak benar/batil”. Para sahabat mengatakan: “Wahai Rosululloh, sesungguhnya para kahin itu terkadang menceritakan sesuatu yang menjadi kenyataan”. Rosululloh n bersabda: “Itu adalah satu kalimat dari jin, jin mencopet kalimat itu lalu membisikkannya pada telinga wali (kekasih)nya seperti berkoteknya ayam. Kemudian para kahin itu mencampur pada kalimat itu lebih dari seratus kedustaan”. (HR. Muslim, no: 2228)

Dari penjelasan ini kita mengetahui bahaya perdukunan, semoga Alloh selalu menjaga kita dari kesesatan-kesesatan. Aamiin. Wallohu Al-Musta’an.
Baca Selengkapnya...

TATHOYYUR

TATHOYYUR
Disusun oleh: Muslim Atsari

Keimanan kepada keesaan Alloh Ta’ala di dalam kekuasaanNya akan menjadikan seorang mukmin bertawakkal dengan sebenarnya kepadaNya. Seorang mukmin tidak akan dihinggapi rasa was-was dan khawatir sebagaimana yang dialami oleh orang-orang yang memiliki keyakinan sial terhadap sesuatu tertentu. Karena agama Islam melarang tathoyyur atau thiyaroh (anggapan sial terhadap sesuatu).

PENGERTIAN TATHOYYUR
Syaikh Abdurrohman bin Hasan Alu Syaikh berkata: “Asal tathoyyur adalah dengan (anggapan sial terhadap) gerakan ke arah kanan dan ke arah kiri dari burung, kijang, dan lainnya. Dahulu, hal itu membatalkan orang-orang jahiliyah dari tujuan-tujuan mereka, maka syari’at Islam menadakannya dan membatalkannya. Syari’at Islam memberitakan bahwa itu tidak memiliki pengaruh di dalam mendatangkan kebaikan atau menolak bahaya”. (Fathul Majid, hlm: 278, penerbit: Dar Ibni Hazm. Juga lihat Catatakan kaki, no: 1 kitab Mausu’ah Manahi Syar’iyyah, 1/102, karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata: “Jika engkau menghendaki maka katakanlah: tathoyyur adalah anggapan sial terhadap sesuatu yang dilihat, didengar, dan diketahui. Sesuatu yang dilihat seperti: jika seseorang melihat seekor burung lalu dia menganggap sial karena keadaannya yang menakutkan. Sesuatu yang didengar seperti: seseorang menginginkan sesuatu, lalu dia mendengar seseorang berkata kepada orang lain: “Wah, rugi!”, atau “Wah, gagal”, lalu dia menganggap sial. Sesuatu yang diketahui seperti: anggapan sial terhadap sebagian hari-hari, sebagian bulan-bulan, aatau sebagian tahun-tahun. Ini tidak dilihat dan tidak didengar”. (Al-Qoulul Mufid Syarh Kitab At-Tauhid 2/77)
Dan tathoyyur ini tercela dan dosa serta kemusyrikan jika sampai menghalangi seseorang dari keperluannya.

LARANGAN TATHOYYUR
Demikian juga kita dapati larangan tathoyyur disebutkan di dalam banyak hadits-hadits Nabi n . Inilah di antaranya:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ثَلَاثًا وَمَا مِنَّا إِلَّا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ
Dari Abdulloh bin Mas’ud, dari Rosululloh n , beliau n bersabda: “Thiyaroh adalah syirik, thiyaroh adalah syirik, (tiga kali). Dan tidaklah dari kita kecuali, tetapi Alloh menghilangkannya dengan tawakkal”. (HR. Abu Dawud, no: 3910; Tirmidzi, no: 1614; Ibnu Majah, no: 3538; Bukhori, di dalam Al-Adabul Mufrod, no: 909; dll; dishohihkan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam Al-Mausu’ah Manahi Syar’iyyah 1/103)
عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ وَقَدْ جَاءَ اللَّهُ بِالْإِسْلَامِ وَإِنَّ مِنَّا رِجَالًا يَأْتُونَ الْكُهَّانَ قَالَ فَلَا تَأْتِهِمْ قَالَ وَمِنَّا رِجَالٌ يَتَطَيَّرُونَ قَالَ ذَاكَ شَيْءٌ يَجِدُونَهُ فِي صُدُورِهِمْ فَلَا يَصُدَّنَّهُمْ
Dari Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami, dia berkata: “Aku berkata: “Wahai Rosululloh, sesungguhnya aku baru dari masa jahiliyah, dan Alloh telah mendatangkan Islam, sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang mendatangi dukun”. Beliau bersabda: “Engkau jangan mendatangi mereka!” Dia berkata: “Di antara kami ada orang-orang yang bertathoyyur”. Beliau bersabda: “Itu adalah sesuatu yang mereka dapati di dalam dada (hati) mereka, maka janganlah itu menghalangi mereka”. (HR. Muslim, no: 537)

Syaikh Salim Al-Hilali berkata tentang makna kedua hadits ini: “Makna keduanya satu. Bahwa thiyaroh adalah sesuatu yang didapati pada jiwa secara spontan, sehingga tidak ada celaan padanya. Namun yang tercela dan dosa adalah jika hal itu menghalangi antaramu dengan keperluanmu, dan obat hal itu adalah tawakal kepada Alloh, renungkanlah!”. (Catatan kaki Al-Mausu’ah Manahi Syar’iyyah 1/103-104)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ قَالَ أَنْ يَقُولَ أَحَدُهُمْ اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ
Dari Abdulloh bin ‘Amr, dia berkata: Rosululloh n bersabda: “Barangsiapa dibatalkan oleh thiyaroh dari suatu keperluan maka dia telah melakukan syirik!”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rosululloh, apakah kaffarohnya?”. Beliau menjawab; “Dia mengatakan: “Wahai Alloh, tidak ada kebaikan kecuali kebaikanMu, tidak ada kesialan kecuali kesialan yang telah Engkau takdirkan, dan tidak ada ilaah yang haq kecuali Engkau”. (HR. Ahmad 2/220; dll; dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Ash-Shohihah, no: 1065 dan oleh Salim Al-Hilali di dalam Al-Mausu’ah Manahi Syar’iyyah 1/104)

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ ذَكَرُوا الشُّؤْمَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْ كَانَ الشُّؤْمُ فِي شَيْءٍ فَفِي الدَّارِ وَالْمَرْأَةِ وَالْفَرَسِ
Dari Ibnu Umar, dia berkata: Mereka membicarakan kesialan di dekat Nabi n , maka Nabi n bersabda: “Jika ada kesialan pada sesuatu, maka pada rumah, wanita, dan kuda”. (HR. Bukhori, no: 5094; Muslim, no: 2225)

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ الصَّالِحُ الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ
Dari Anas, dari Nabi n , beliau n bersabda: “Tidak ada penyakit menular (yakni dengan sendirinya), dan tidak ada thiyaroh (tathoyyur), dan aku menyukai optimisme yang baik, yaitu kalimat yang baik”. (HR. Bukhori, no: 5756; Muslim, no: 2224)

TATHOYYUR SIFAT ORANG-ORANG JAHILIYAH SEJAK DAHULU
Banyak ayat dan hadits yang mencela dan melarang tathoyyur. Inilah di antaranya:
Tathoyyur merupakan perbuatan orang-orang musyrik dan jahiliyah semenjak zaman dahulu.
Kaum Tsamud bertathoyyur kepada Nabi Shalih dan orang-orang yang beriman kepadanya. Alloh berfirman:

"Mereka (Kaum Tsamud) menjawab: "Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu". Nabi Shaleh berkata: "Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji". (QS. 27:47)
Fir’aun dan pengikutnya bertathoyyur kepada Nabi Musa dan orang-orang yang beriman kepadanya. (Al-A’rof: 130-131)

Kaum Shohibu Yaasin menuduh tiga Rosul membikin sial mereka. (Yaasiin: 18-19)
Ayat-ayat ini memberitakan bahwa tathoyyur merupakan sifat orang-orang jahiliyah zaman dahulu, maka tidak pantas dimiliki oleh orang-orang yang beriman.

TATHOYYUR BERTENTANGAN DENGAN TAUHID
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata: “Ketahuilah bahwa tathoyyur bertentangan dengan tauhid. Dan sisi pertentangannya dari dua sisi:
Pertama: bahwa orang yang bertathoyyur memutuskan tawakalnya kepada Alloh dan dia bersandar kepada selainNya.
Kedua: bahwa dia bergantung kepada perkara yang tidak ada hakekatnya. Apakah hubungan antara perkara itu dengan apa yang terjadi padamu? Tidak ada keraguan, ini merusakkan tauhid. Karena tauhid adalah ibadah (ketundukan mutlak) dan isti’anah (memohon pertolongan). Alloh Ta’ala berfirman:

Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan. (Al-Fatihah: 5)
  
Maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. (Huud: 123)

Oleh karena itulah ‘Aisyah mengatakan: bahwa Nabi n menikahinya pada bulan Syawal, dan beliau berkumpul dengannya pada bulan Syawal, dan bahwa dia adalah wanita yang paling banyak mendapatkan perhatian dan paling dicintai dari istri-istri Nabi n “. Dan dahulu bangsa Arab menganggap sial bulan Syawal. Mereka mengatakan, jika seseorang menikah pada bulan Syawal, maka dia tidak akan beruntung. Anggapan mereka ini tidak ada hakekatnya. Dengan demikian thiyaroh diharamkan, dan itu bertentangan dengan tauhid sebagaimana telah berlalu. Dan orang yang beranggapan sial terhadap sesuatu tidak lepas dari dua keadaan:

Pertama: Dia mundur dan menyambut thiyaroh ini serta meninggalkan perbuatan/usaha (karenanya). Ini termasuk sebesar-besar tathoyyur dan anggapan sial.
Kedua: Dia meneruskan perbuatannya, tetapi di dalam kebimbangan, kesusahan, dan khawatir dari apa yang dia anggap sial itu. Ini lebih ringan. Namun kedua perkara di atas mengurangi tauhid dan membahayakan hamba. Tetapi hendaklah engkau melaksanakan apa yang engkau inginkan dengan kelapangan dada, ringan, dan bersandar kepada Alloh ‘Azza wa Jalla. Dan janganlah engkau berburuk sangka terhadap Alloh ‘Azza wa Jalla”. (Al-Qoulul Mufid Syarh Kitab At-Tauhid 2/77-78)
Baca Selengkapnya...

NUSYROH, MENGOBATI SIHIR

NUSYROH, MENGOBATI SIHIR
Disusun oleh: Muslim Atsari

Sihir dan berita tentang sihir merupakan kenyataan yang ditunjukkan riwayat-riwayat mutawatir dari para sahabat dan Salaf (orang-orang zaman dahulu yang sholih), dan telah disepakati oleh ahli fiqih, ahli tafsir, dan ahli hadits. Bahkan merupakan kenyataan sampai di zaman kita ini. Dengan takdir Alloh, sihir dapat mempengaruhi badan, sehingga menjadikan sakit, atau membunuh (inilah yang disebut dengan tenung, santet, teluh, dan semacamnya-pen) atau memisahkan dua orang yang sebelumnya ada kencintaan (ini disebut shor-f), atau mengumpulkan dua orang yang sebelumnya ada kebencian (ini disebut dengan ‘ath-f, aji pengasihan, pelet, dan semacamnya). Dan sihir merupakan perbuatan kekafiran. Alloh Ta'ala berfirman:
وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَاكَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِّنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَآأُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولآ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَاهُم بِضَآرِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَالَهُ فيِ اْلأَخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ وَلَبِئْسَ مَاشَرَوْا بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ {102}

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Merek mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaiu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan ijin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya sendiri dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (QS. 2:102)

MENGOBATI SIHIR
Jika seseorang sakit karena terkena sihir, bagaimanakah pengobatannya? Sesungguhnya telah banyak penjelasan para ulama seputar masalah ini. Inilah sedikit pembahasan yang berkatan dengan mengobati sihir.

Ada hadits Nabi yang menerangkan bahwa nusyroh (mengobati sihir) merupakan perbuatan syaithon.
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النُّشْرَةِ فَقَالَ هُوَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ
Dari Jabir bin Abdulloh, dia berkata: Rosululloh n ditanya tentang an-nusyroh, maka beliau menjawab: “Itu termasuk perbuatan syaithon”. (HR. Ahmad, 3/294; Abu Dawud, no: 3868; Al-Baihaqi, 9/351; dishahihkan oleh syaikh Al-Albani di dalam Al-Misykah, no: 4553)

Demikian juga diriwayatkan dari Al-Hasan, bahwa dia berkata: "Tidaklah mengobati sihir kecuali tukang sihir". (Fathul Bari 10/233)
Namun para ulama memahami bahwa nusyroh yang ditanyakan kepada Rosululloh n ini , juga yang dikatakan oleh Al-Hasan tersebut adalah nusyroh yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah, yaitu nusyroh yang syirik.

Syaikh Abdurrohman bin Hasan Alu Syaikh berkata: “Huruf alif dan lam pada اَلنُّشْرَةُ / an-nusyroh (di dalam hadits di atas-pen) menunjukkan nusyroh yang sudah dikenal, yaitu nusyroh yang biasa dilakukan oleh orang-orang jahiliyah. Itu termasuk perbuatan syaithon”. (Fathul Majid, hlm: 275, penerbit: Dar Ibni Hazm)
Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Nusyroh adalah mengobati sihir dari orang yang terkena sihir. Nusyroh ada dua macam:

Pertama: mengobati sihir dengan sihir juga, ini merupakan perbuatan syaithon. Kepada makna inilah perkataan Al-Hasan ditujukan. Orang yang melakukan nusyroh dan meminta dilakukannya mendekatkan diri kepada syaithon dengan apa yang disukai oleh syaithon, lalu perbuatannya tersebut membatalkan pengaruh sihir dari orang yang terkena sihir.
Kedua: mengobati sihir dengan ruqyah (mantra yang mubah), doa-doa mohon perlindungan, obat-obatan, dan doa-doa yang mubah, maka ini boleh”. (Fathul Majid, hlm: 276, penerbit: Dar Ibni Hazm)
Kesimpulannya bahwa nusyroh (mengobati sihir) yang dilakukan dengan sihir juga maka hukumnya harom. Adapun yang dilakukan dengan (bacaan) Al-Qur'an, doa-doa, dan obat-obatan yang mubah maka hukumnya boleh. Wallohu A'lam. (Fathul Majid, hlm: 275, penerbit: Dar Ibni Hazm)

CONTOH NUSYROH
Di antara bentuk nusyroh yang dibolehkan adalah sebagaimana disebutkan di dalam hadits-hadits shohih di bawah ini:
عَنْ زَيْنَبَ امْرَأَةِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ قَالَتْ قُلْتُ لِمَ تَقُولُ هَذَا وَاللَّهِ لَقَدْ كَانَتْ عَيْنِي تَقْذِفُ وَكُنْتُ أَخْتَلِفُ إِلَى فُلَانٍ الْيَهُودِيِّ يَرْقِينِي فَإِذَا رَقَانِي سَكَنَتْ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ إِنَّمَا ذَاكَ عَمَلُ الشَّيْطَانِ كَانَ يَنْخُسُهَا بِيَدِهِ فَإِذَا رَقَاهَا كَفَّ عَنْهَا إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكِ أَنْ تَقُولِي كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَذْهِبْ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا
Dari Zainab istri Abdulloh (bin Mas’ud), dari Abdulloh, dia berkata: “Aku mendengar Rosululloh n bersabda: “Sesungguhnya ruqyah (jampi-jampi/mantra-mantra), tamimah-tamimah, dan tiwalah (aji pengasihan) itu kemusyrikan”. Aku (Zainab) berkata: “Kenapa engkau mengatakan begitu? Demi Alloh, sesungguhnya dahulu satu mataku ini selalu mengeluarkan air mata (atau kotoran mata), dan aku pergi berulang-ulang kepada Fulan seorang Yahudi yang meruqyahku. Jika dia telah meruqyahku, mataku ini tenang”. Maka Abdulloh bin Mas’ud mengatakan: “Sesungguhnya itu adalah perbuatan setan, dia menusuknya ( mata itu) dengan (jari) tangannya. Jika orang Yahudi itu telah meruqyahnya, setan itu menghentikannya. Sesungguhnya cukup bagimu mengucapkan apa yang biasa diucapkan oleh Rosulullah n :
أَذْهِبْ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا
“Wahai Penguasa manusia, hilangkanlah penyakit ini, sembuhkanlah, Engkau Maha Menyembuhkan, tidak obat kecuali obat-Mu, obat yang tidak meninggalkan penyakit apapun”. (HR. Abu Dawud, no: 3883; Ahmad, juz 1, hlm 381; Ibnu Majah, no: 3530; Al-Hakim juz 4, hlm 418. Dishohihkan Syaikh Al-Albani di dalam Silsilah Ash-Shohihah, no: 331)
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اشْتَكَى يَقْرَأُ عَلَى نَفْسِهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ وَيَنْفُثُ فَلَمَّا اشْتَدَّ وَجَعُهُ كُنْتُ أَقْرَأُ عَلَيْهِ وَأَمْسَحُ عَنْهُ بِيَدِهِ رَجَاءَ بَرَكَتِهَا
Dari 'Aisyah, bahwa kebiasaan Nabi n jika menderita sakit, beliau membacakan Al-Mu'awwidzat (surat Al-Falaq, An-Nas, Al-Ikhlas) pada diri beliau sendiri dan beliau meniupkan. Ketika sakitnya keras, aku yang membacakan pada beliau, dan aku mengusapkan pada beliau dengan tangannya karena mengharapkan berkahnya". (HR. Bukhori, no: 5016; Muslim, no: 2192)

JANGAN BERGANTUNG KEPADA SELAIN ALLOH
Termasuk aqidah seorang mukmin adalah bahwa yang dapat menyembuhkan penyakit hanyalah Alloh Ta'ala saja. Sebagaimana perkataan Nabi Ibrohim 'alaihis salam:
فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِّي إِلاَّرَبَّ الْعَالَمِينَ {77} الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ {78} وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ {79} وَإِذَامَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ {80}
Sesungguhnya semua yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Robb Semesta Alam, (yaitu Robb) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Rabbku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit. Dialah Yang menyembuhkan aku, (QS. Asy-Syu’aroo’ (26): 77-80)

Tetapi hal ini bukan berarti bahwa berobat itu terlarang, bahkan dianjurkan, asalkan bukan dengan sesuatu yang haram, dan hal itu tidak bertentangan dengan tawakkal dan kesabaran. Nabi Muhammad n bersabda:
لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Setiap penyakit ada obatnya, jika obat mengenai penyakit, penyakit itu pasti akan sembuh dengan idzin Alloh. (HR. Muslim, no: 2204)

Di dalam hadits lain disebutkan:
عَنْ أُسَامَةَ بْنِ شَرِيكٍ قَالَ قَالَتْ الْأَعْرَابُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا نَتَدَاوَى قَالَ نَعَمْ يَا عِبَادَ اللَّهِ تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ شِفَاءً أَوْ قَالَ دَوَاءً إِلَّا دَاءً وَاحِدًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُوَ قَالَ الْهَرَمُ
Dari Usamah bin Syarik, dia berkata: “Orang-orang Baduwi berkata: “Wahai Rosulullah, tidakkah kita berobat?” Beliau menjawab: “Ya, wahai hamba-hamba Alloh berobatlah kamu, karena sesungguhnya Alloh tidaklah menciptakan penyakit kecuali juga menciptakan obatnya, kecuali satu penyakit”. Mereka bertanya: “Wahai Rosulullah, apa itu?” Beliau menjawab: “Ketuaan/kepikunan”. (HR. Tirmidzi, no: 2038; dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Dengan demikian kewajiban orang yang beriman jika diuji dengan menderita sakit, hendaklah dia bersabar, tidak berkeluh kesah, berusaha berobat dengan jalan yang halal disertai dengan berdoa kepada Alloh Yang Maha Kuasa. Dan hendaklah kita mengetahui bahwa seluruh yang menimpa orang beriman itu baik adanya.
Al-hamdulillahi Rabbil 'alamin.
Baca Selengkapnya...

PERBINTANGAN

PERBINTANGAN
Disusun oleh: Muslim Atsari

Sesungguhnya kenikmatan Alloh kepada manusia sangat banyak. Baik kenikmatan lahiriyah maupun batiniyah. Di antara kenikmatan yang Alloh berikan kepada manusia adalah penciptaan bintang-bintang di atas langit.

HIKMAH PENCPTAAN BINTANG
Di dalam Al-Qur'an, Alloh telah menjelaskan beberapa hikmah penciptaan bintang-bintang tersebut sebagai berikut:
1-Hiasan langit. Alloh Ta'ala berfirman:
Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. (Al-Mulk: 5)

2-Alat-alat pelempar syaithon. Yaitu lemparan terhadap jin yang berusaha mencuri berita langit. Hal ini sebagaimana disebutkan di dalam ayat di atas. Demikian juga banyak hadits-hadits Nabi yang memberitakannya. Di antaranya adalah hadits di bawah ini:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَخْبَرَنِي رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْأَنْصَارِ أَنَّهُمْ بَيْنَمَا هُمْ جُلُوسٌ لَيْلَةً مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُمِيَ بِنَجْمٍ فَاسْتَنَارَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاذَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا رُمِيَ بِمِثْلِ هَذَا قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ كُنَّا نَقُولُ وُلِدَ اللَّيْلَةَ رَجُلٌ عَظِيمٌ وَمَاتَ رَجُلٌ عَظِيمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهَا لَا يُرْمَى بِهَا لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنْ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى اسْمُهُ إِذَا قَضَى أَمْرًا سَبَّحَ حَمَلَةُ الْعَرْشِ ثُمَّ سَبَّحَ أَهْلُ السَّمَاءِ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ حَتَّى يَبْلُغَ التَّسْبِيحُ أَهْلَ هَذِهِ السَّمَاءِ الدُّنْيَا ثُمَّ قَالَ الَّذِينَ يَلُونَ حَمَلَةَ الْعَرْشِ لِحَمَلَةِ الْعَرْشِ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ فَيُخْبِرُونَهُمْ مَاذَا قَالَ قَالَ فَيَسْتَخْبِرُ بَعْضُ أَهْلِ السَّمَاوَاتِ بَعْضًا حَتَّى يَبْلُغَ الْخَبَرُ هَذِهِ السَّمَاءَ الدُّنْيَا فَتَخْطَفُ الْجِنُّ السَّمْعَ فَيَقْذِفُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ وَيُرْمَوْنَ بِهِ فَمَا جَاءُوا بِهِ عَلَى وَجْهِهِ فَهُوَ حَقٌّ وَلَكِنَّهُمْ يَقْرِفُونَ فِيهِ وَيَزِيدُونَ
Dari Abdulloh bin Abbas, dia berkata: “Seorang laki-laki dari sahabat Nabi dari kalangan Anshor memberitakan kepadaku: “Bahwa pada suatu malam ketika mereka sedang duduk bersama Rosululloh n , ada satu bintang yang dilemparkan sehingga bintang itu bersinar. Maka Rosululloh n bersabda kepada mereka: “Pada zaman jahiliyah, apakah yang kamu katakan apabila ada ada bintang yang dilemparkan seperti ini?” Mereka menjawab: “Alloh dan RosulNya yang lebih tahu. Kami dahulu mengatakan: “Pada malam ini telah dilahirkan seorang yang agung, dan telah wafat seorang yang agung”. Maka Rosululloh n bersabda: “Sesungguhnya bintang itu tidaklah dilemparkan karena kematian seseorang, dan bukan karena hidupnya seseorang. Tetapi Robb kita Tabaroka wa Ta’ala ismuhu apabila telah memutuskan satu urusan, para malaikat pemikul ‘arsy bertasbih, kemudian (para malaikat) penghuni langit yang mengiringinya juga bertasbih. Sehingga tasbih itu sampai kepada penghuni langit dunia ini. Kemudian para malaikat yang dekat dengan para pemikul ‘arsy bertanya kepada para pemikul ‘arsy: “Apakah yang telah dikatakan oleh Robb kamu?” Maka mereka memberitakan kepada para malaikat itu tentang apa yang Alloh katakan. Kemudian sebagian penghuni langit meminta kabar kepada sebagian yang lain. Sehingga kabar itu sampai ke langit dunia ini. Kemudian jin mencopet pendengaran, lalu memberikan kepada wali-wali (kekasih) mereka. Dan mereka dilempar dengan bintang itu. Maka apa yang mereka bawa sesuai dengan aslinya itu haq, tetapi mereka berdusta padanya dan menambahi.” (HR. Muslim, no: 2229; Ahmad, juz: 1 / hlm: 218)

3-Tanda-tanda untuk mengetahui arah dan jalan. Alloh Ta'ala berfirman:
Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui. (An-Nahl: 97)

Inilah hikmah-hikmah penciptaan bintang yang dijelaskan oleh Alloh Ta'ala, maka janganlah seseorang berlebih-lebihan dengan mencari-cari tujuan-tujuan yang lain dari bintang-bintang ciptaan Alloh Ta'ala itu. Imam Bukhori meriwayatkan bahwa Qotadah –semoga Alloh merahmatinya- berkata:
خَلَقَ هَذِهِ النُّجُومَ لِثَلَاثٍ جَعَلَهَا زِينَةً لِلسَّمَاءِ وَرُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَعَلَامَاتٍ يُهْتَدَى بِهَا فَمَنْ تَأَوَّلَ فِيهَا بِغَيْرِ ذَلِكَ أَخْطَأَ وَأَضَاعَ نَصِيبَهُ وَتَكَلَّفَ مَا لَا عِلْمَ لَهُ بِهِ
Alloh telah menciptakan bintang-bintang ini untuk tiga (perkara): hiasan untuk langit, melempar syaithon, dan tanda-tanda yang dijadikan petunjuk (jalan/arah/daerah). Barangsiapa menerangkan tentang bintang-bintang dengan selain itu, dia telah berbuat keliru, menyia-nyiakan bagiannya, dan memberatkan diri dengan apa yang dia tidak memiliki ilmunya. (Kitab: Bad'ul Kholq, bab: Fiin Nujum)

ILMU PERBINTANG YANG TERLARANG
Perlu diketahui bahwa sejak dahulu sampai sekarang, banyak orang yang mempercayai bahwa kejadian-kejadian akan datang, nasib manusia, dan semacamnya dapat diketahui lewat bintang-bintang. Sesungguhnya ini merupakan perkara yang bertentangan dengan aqidah Islam. Rosululloh n telah bersabda:
أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي ثَلاَثًا: حَيْفَ الْأَئِمَّةِ , وَإِيْمَانًا بِالنُّجُومِ , تَكْذِيْبًا بِالْقَدَرِ
Aku khawatirkan pada umatku tiga perkara: penyimpangan imam-imam (tokoh-tokoh panutan; pemerintah), keyakinan terhadap bintang-bintang, dan pendustaan terhadap takdir. (HR. Ibnu 'Asakir; Ibnu Abdil Barr di dalam Jami' Bayanil 'Ilmi 2/39; Abd bin Humaid; Lihat Ad-Durrul Mantsur 8/31; Kanzul 'Ummal 6/15. Hadits Hasan dengan semua penguatnya. Fathul Majid, hal: 292)

Anggapan demikian itu sesungguhnya termasuk ilmu sihir, sebagaimana disebutkan di dalam hadits di bawah ini:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنْ النُّجُومِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنْ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ
Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rosululloh n bersabda: "Barangsiapa mengambil (mempelajari) ilmu (masalah; pengetahuan) dari bintang-bintang, dia mengambil satu bagian dari sihir. Pengambilan sihir itu bertambah selama dia bertambah mengambil (mempelajari). (HR. Abu Dawud, no: 3905; Ahmad 1/277; Al-Baihaqi, no: 3726. Dihasankan oleh syaikh Al-Albani)

Al-Khoththobi berkata: "Ilmu perbintangan yang terlarang adalah ilmu yang oleh para ahli perbintangan dijadikan petunjuk terhadap pengetahuan kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa yang belum terjadi. Seperti datangnya hujan dan perubahan harga-harga (barang). Adapun ilmu perbintangan untuk mengetahui waktu-waktu sholat, arah kiblat tidak masuk yang terlarang".
Syeikh Sholih Al-Fauzan menyatakan: “Maka barangsiapa mengaku-ngaku perkara ghoib dengan sarana apa saja –selain yang dikecualikan oleh Alloh kepada para rosulNya (lewat wahyuNya)- maka dia pendusta, kafir. Baik hal itu dengan sarana membaca telapak tangan, gelas, perdukunan, sihir, perbintangan/zodiak, atau lainnya”. [Lihat: kitab At-Tauhid, hal: 30, karya Syeikh Sholih Al-Fauzan, penerbit Darul Qosim, cet: 2, th: 1421 H / 2000 M]

Beliau juga berkata: “Maka barangsiapa mengaku-ngaku mengetahui perkara ghoib atau membenarkan orang yang mengaku-ngaku hal itu, maka dia musyrik, kafir. Karena dia mengaku-ngaku menyekutui Alloh dalam perkara yang termasuk kekhususan-kekhusuanNya”. [Lihat: kitab At-Tauhid, hal:31, karya Syeikh Sholih Al-Fauzan, penerbit Darul Qosim]

MACAM-MACAM PERBINTANGAN
Syeikh Al-‘Utsaimin t juga menjelaskan masalah tanjiim (perbintangan). Beliau menyatakan bahwa ilmu tanjiim ada dua:
1)Ilmu At-Ta’tsiir (Astrologi; ilmu yang mempelajari tentang bintang dengan anggapan bahwa bintang-bintang itu memiliki pengaruh). Ini ada tiga:
(1)Seseorang meyakini bahwa bintang-bintang memiliki pengaruh, sebagai pelaku, dengan arti: bahwa bintang-bintang itu yang menciptakan kejadian-kejadian dan keburukan-keburukan. Ini syirik akbar (syirik yang lebih besar, orangnya kafir atau murtad jika dia orang Islam). Karena barangsiapa mengklaim bahwa bersama Alloh ada pencipta (selain Dia), maka dia orang musyrik dengan kemusyrikan yang besar. Karena dia menjadikan makhluk yang ditundukkan (yaitu bintang), menjadi pencipta yang menundukkan.
(2)Seseorang menjadikan bintang-bintang sebagai sebab, sehingga dengannya dia mengklaim ilmu ghoib. Dia mengambil petunjuk dengan gerakan bintang-bintang, perpindahannya, dan perubahannya, bahwa akan terjadi demikian dan demikian karena bintang anu telah menjadi demikian dan demikian. Seperti seseorang mengatakan: “Orang ini kehidupannya akan celaka karena dia dilahirkan pada bulan anu”, “Orang ini kehidupannya akan bahagia karena dia dilahirkan pada bulan anu”. Maka orang tersebut telah menjadikan mempelajari perbintangan sebagai sarana untuk mengklaim ilmu ghoib, sedangkan klaim ilmu ghoib merupakan kekafiran yang mengeluarkan dari agama. Karena Alloh Ta’ala berfirman:
قُل لاَّ يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ
Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah". (QS. 27:65)
Firman Alloh ini termasuk jenis pembatas yang paling kuat, karena menggunakan peniadaan dan pengecualian. Maka barangsiapa mengaku-ngaku terhadap ilmu ghoib, berarti dia telah mendustakan Al-Qur’an.
(3)Seseorang meyakini bintang-bintang itu sebagai sebab terjadinya kebaikan dan keburukan. Maka ini syirik ash-ghor (syirik yang lebih kecil, tidak memurtadkan dari Islam). Yaitu jika telah terjadi sesuatu, dia menisbatkan kepada bintang-bintang. Dan dia tidak menisbatkan kepada bintang-bintang kecuali setelah terjadinya.

2)Ilmu At-Tasyiir (Astronomi; ilmu yang mempelajari tentang bintang, yang dengan perjalanannya dijadikan petunjuk untuk mashlahat (kebaikan) agama, seperti arah kiblat, atau mashlahat dunia, seperti: arah, letak tempat, musim, dan lainnya. Ini hukumnya boleh. [Lihat Al-Qoulul Mufid ‘ala Kitab At-Tauhid 2/102-103, karya Syeikh Al-‘Utsaimin, penerbit: Darul ‘Ashimah, cet: 1, th: 1415 H]

Dari penjelasan ini kita mengetahui bahaya ramalan nasib atau kejadian-kejadian berdasarkan bintang, yang dikenal dengan istilah horoscop, pakuwon, atau semacamnya. Wallohul-Musta’an.
Baca Selengkapnya...

RIYA’ DAN JENIS-JENISNYA

RIYA’ DAN JENIS-JENISNYA
Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaisyah
(Diterjemahkan oleh Muslim Atsari)

IKHLAS UNTUK ALLAH TA’ALA*)*)[Kitab Al-Ikhlas, hlm. 9-10, karya syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaisyah]
Apakah syarat diterimanya amal?
Sebelum anda melangkah satu langkah –wahai saudaraku muslim- hendaklah anda mengetahui jalan yang merupakan keselamatanmu. Janganlah anda memberatimu dengan banyaknya amalan-amalan. Karena alangkah banyaknya orang yang memperbanyak amalan-amalan, namun hal itu tidak memberikan faedah kepadanya kecuali kecapaian darinya di dunia dan siksaan di akhirat. *)*) [Contoh hal ini adalah sabda Nabi n :
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ
Alangkah banyaknya orang yang berpuasa, namun dia tidak mendapatkan bagian dari puasanya kecuali lapar. Dan alangkah banyaknya orang yang shalat malam, namun dia tidak mendapatkan bagian dari shalat malamnya kecuali begadang. HR. Ibnu Majah, dari Abu Hurairah, dan dishahihkan oleh guru kami Al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no. 3482]
Maka sebelum memulai semuanya, hendaklah anda mengetahui apakah syarat diterimanya amalan itu. Harus ada dua perkara penting dan besar yang harus ada pada setiap amalan, jika tidak, amalan tidak akan diterima:
Pertama: pelakunya meniatkan untuk wajah Allah Ta’ala.
Kedua: amalan itu mencocoki apa yang telah Allah syari’atkan di dalam kitabNya atau dijelaskan oleh RasulNya n di dalam Sunnahnya.
Jika salah satu dari dua syarat ini rusak, amalan itu bukanlah amalan yang shalih dan tidak akan diterima. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala:

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabb-nya". (QS. 18:110)

Di dalam ayat ini Allah memerintahkan agar amalan itu shalih, yaitu mencocoki syari’at, kemudian Allah memerintahkan agar pelakunya mengikhlaskannya untuk Allah, tidak mencari selaiNNya dengan amalan itu.
Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata di dalam tafsirnya: “Dua ini adalah rukun diterimanya amalan, yaitu amalan itu harus murni untuk Allah, benar di atas syari’at Rasulullah n . Dan diriwayatkan semisal ini dari Al-Qadhi ‘Iyadh t dan lainnya”. (Tafsir suart Al-Kahfi)

PERINTAH IKHLAS, LARANGAN RIYA’ DAN SYIRIK *)*)[Kitab Al-Ikhlas, hlm. 11-13, karya syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaisyah]
Ketahuilah –wahai saudaraku muslim- bahwa semua amalan pasti terjadi dengan niat, Rasulullah n bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Sesungguhnya semua amalan itu terjadi dengan niat, dan setiap orang mendapatkan apa yang dia niatkan. *)*)[Bagian sebuah hadits di dalam dua Kitab Shahih]

Dan harus mengikhlaskan niat untuk Allah Ta’ala berdasarkan firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala:
Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan meunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. 98:5)

Allah juga berfirman:
Katakanlah:"Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui". (QS. 3:29)

Allah juga telah memperingatkandari riya’, Dia berfirman:
"Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu.” (QS. 39:65)

Nabi n berkatapada waktu mengucapkan talbiyah haji:
اللهم حجة لا رياء فيها ولا سمعة
Wahai Allah, jadikanlah haji yang tidak ada riya’ dan sum’ah di dalamnya. *)*)[HR. Adh-Dhiya’ Al-Maqdisi dengan sanad yang shahih]

Rasulullah n juga telah memperingatkan dengan sangat keras dari riya’.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ
Dari Abu Hurairah z , dia berkata: Aku mendengar Rasulullah n bersabda: “Sesungguhnya manusia pertama kali yag akan diputuskan (pengadilannya) pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mati syahid. Dia didatangkan, Allah menyebutkan nikmat-nikmatNya kepadanya dan dia mengakuinya. Allah bertanya: “Apa yang telah engkau lakukan pada nikmat-nikmatKu itu? Dia menjawab: “Aku berperang untukMu sehingga aku mati syahid”. Allah berkata: “Engkau dusta. Tetapi engkau berperang agar dikatakan ‘seorang pemberani’ dan dahulu (di dunia) telah dikatakan. Lalu diperintahkan mengenai orang tersebut, kemudian dia diseret di atas wajahnya, sehingga dilemparkan di dalam neraka.
Dan seorang laki-laki yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya. Dan dia membaca Al-Qur’an. Dia didatangkan, Allah menyebutkan nikmat-nikmatNya kepadanya dan dia mengakuinya. Allah bertanya: “Apa yang telah engkau lakukan pada nikmat-nikmatKu itu? Dia menjawab: “Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya, dan aku membaca Al-Qur’an untukMu”. Allah berkata: “Engkau dusta. Tetapi engkau mempelajari ilmu agar dikatakan ‘seorang yang ‘aalim’, engkau membaca Al-Qur’an agar dikatakan ‘seorang qaari’’ dan dahulu (di dunia) telah dikatakan. Lalu diperintahkan mengenai orang tersebut, kemudian dia diseret di atas wajahnya, sehingga dilemparkan di dalam neraka.
Dan seorang laki-laki yang Allah luaskan rezekinya, dan Allah juga memberikan berbagai macam harta benda. Dia didatangkan, Allah menyebutkan nikmat-nikmatNya kepadanya dan dia mengakuinya. Allah bertanya: “Apa yang telah engkau lakukan pada nikmat-nikmatKu itu? Dia menjawab: “Aku tidak meninggalkan satu jalanpun yang Engkau menyuaki infaq padanya kecuali aku berinfaq padanya untukMu”. Allah berkata: “Engkau dusta. Tetapi engkau melakukannya agar dikatakan ‘seorang dermawan’ dan dahulu (di dunia) telah dikatakan. Lalu diperintahkan mengenai orang tersebut, kemudian dia diseret di atas wajahnya, sehingga dilemparkan di dalam neraka. *)*)[HR. Muslim, no. 1905]

Dan dari Abu Hurairah z , dia berkata: Aku mendengar Rasulullah n bersabda:
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Allah Ta’ala berfirman: “Aku paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa beramal dengan suatu amalan, dia menyekutukan selain Aku bersamaKu pada amalan itu, Aku tinggalkan dia dan sekutunya. (HR. Muslim, no: 2985)

Dan Rasulullah n bersabda:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا
Barangsiapa mempelajari ilmu yang dengannya dicari wajah Allah ‘Azza wa Jalla, namun dia tidak mempelajarinya kecuali untuk meraih kesenangan dunia dengan ilmu itu, dia tidak akan mendapati bau surga pada hari kiamat. *)*)[HR. Abu Dawud dengan sanad yang shahih]

RIYA’ DAN JENIS-JENISNYA*)*)[Kitab Al-Ikhlas, hlm. 63-67, karya syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaisyah]

Di antara jenis-jenis riya’ adalah: *)*)[Semua jenis ini kami nukilkan dari kitab Mukhtashar Minhajul Qashidiin, hlm. 223-225, dengan sedikit pengurangan dan pengeditan]
1-Riya’ yang berkaitan dengan badan.
Hal ini dengan menampakkan kekurusan dan kepucatan, agar -dengan itu- orang-orang melihat kesungguhan perjuangannya dan dominannya rasa takut terhadap akhirat. Dan mendekati hal ini adalah merendahkan suara, menjadikan dua mata menjadi cekung, menampakkan keloyoan badan, agar –dengan itu- menampakkan bahwa dia rajin berpuasa.

2-Riya’ dari sisi pakaian.
Seperti membiarkan bekas sujud pada wajah, mengenakan pakaian jenis tertentu yang biasa dikenakan oleh sekelompok orang yang masyarakat menilai mereka sebagai ulama’, maka dia mengenakan pakaian itu agar dikatakan sebagai seorang ‘alim.

3-Riya’ dengan perkataan
Ini –pada umumnya- adalah riya’nya orang-orang yang menjalankan agama. Yaitu dengan memberi nasehat, memberi peringatan, menghafalkan hadits-hadits dan riwayat-riwayat, dengan tujuan diskusi/perdebatan, menampakkan kelebihan ilmu, berdzikir dengan menggerakkan dua bibir di hadapan orang banyak, menampakkan kemarahan terhadap kemungkaran di hadapan manusia, membaca Al-Qur’an dengan merendahkan dan melembutkan suara, hal itu untuk menunjukkan rasa takut, sedih, dan khusyu’ (kepada Allah-pent).

4-Riya’ dengan perbuatan
Seperti riya’nya orang yang shalat dengan lamanya berdiri, memanjangkan ruku’ dan sujud, menampakkan kekhusyu’an, riya’ dengan memperlihatkan puasa, perang (jihad), haji, sodaqoh, dan semacamnya.

5-Riya’ dengan kawan-kawan dan tamu-tamu.
Seperti orang yang memberatkan dirinya meminta kunjungan seorang ‘alim (ahli ilmu) atau ‘abid (ahli ibadah), agar dikatakan: Sesungguhnya Si Fulan telah mengunjungi si Fulan. Dan seperti mengundang banyak orang untuk mengunjunginya, agar dikatakan: sesungguhnya orang-orang beragama sering mendatanginya.

Perkara yang disangka riya’ dan syirik, padahal bukan.

1-Pujian manusia untuk seseorang terhadap perbuatan baiknya.
عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَأَيْتَ الرَّجُلَ يَعْمَلُ الْعَمَلَ مِنْ الْخَيْرِ وَيَحْمَدُهُ النَّاسُ عَلَيْهِ قَالَ تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ
Dari Abu Dzar, dia berkata: “Dikatakan kepada Rasulullah n , beritakan kepadaku tentang seseorang yang melakukan amalan kebaikan dan orang-orang memujinya padanya! Beliau bersabda: “Itu adalah kabar gembira yang segera bagi seorang mukmin”. (HR. Muslim, no. 2642-pent)

2-Giatnya seorang hamba melakukan ibadah pada saat dilihat oleh orang-orang yang beribadah.
Al-Maqdisi t berkata: “Terkadang seseorang bermalam bersama orang-orang yang melaksanakan shalat tahajjud, lalu mereka semua melakukan shalat pada mayoritas waktu malam itu, sedangkan kebiasaan orang itu melakukan shalat malam satu jam, lalu dia menyesuaikan dengan mereka. Atau mereka berpuasa, lalu diapun berpuasa. Seandainya bukan karena mereka semangat itu tidaklah muncul.
Mungkin ada orang yang menyangka bahwa itu adalah riya’, padahal tidaklah mutlak demikian. Bahkan padanya terdapat perincian: yaitu bahwa setiap mukmin menyukai beribadah kepada Allah Ta’ala, tetapi terkadang banyak penghalang yang menghalanginya, dan kelalaian menyeretnya, maka kemungkinan dia menyaksikan orang lain itu merupakan sebab hilangnya kelalaian tersebut…Kemudian dia dapat menguji urusannya itu, dengan cara dia menggambarkan orang-orang lain itu berada di suatu tempat yang dia dapat melihat mereka, namun mereka tidak dapat melihatnya. Jika dia lihat jiwanya dermawan/ringan melakukan ibadah, maka itu untuk Allah. Jika jiwanya tidak dermawan/ringan, maka keringanan jiwanya di hadapan orang banyak itu merupakan riya’. Dan bandingkan (perkara lainnya) dengan ini”. (Mukhtashar Minhajul Qashidiin, hlm. 234)
Aku katakan: “Kemalasan seseorang ketika sendirian datang dari bab sabda Nabi n :
فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ
Sesungguhnya srigala itu hanyalah memakan kambing yang menyendiri.

Sedangkan semangatnya masuk ke dalam bab melaksanakan sabda beliau n :
عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ
Hendaklah kamu menetapi jama’ah. *)*)[Nash haditsnya adalah:
مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلَا بَدْوٍ لَا تُقَامُ فِيهِمْ الصَّلَاةُ إِلَّا قَدْ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمْ الشَّيْطَانُ فَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ
Tidaklah tiga orang tinggal di sebuah desa atau padang pasir, shalat (jama’ah) tidak ditegakkan pada mereka kecuali mereka dikuasai oleh syaithan. Maka hendaklah kamu menetapi jama’ah,karena sesungguhnya srigala itu hanyalah memakan kambing yang menyendiri. (HR. Abu Dawud, dihasankan Al-Albani-pent)

3-Membaguskan dan memperindah pakaian, sandal, dan semacamnya.
Di dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Mas'ud z , dari Nabi n , beliau bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Tidak akan masuk sorga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi. Seorang laki-laki bertanya: "Ada seseorang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus (apakah termasuk kesombongan?) Beliau menjawab: "Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia". (HR. Muslim, no. 2749-pent)

4-Tidak menceritakan dosa-dosanya dan menyembunyikan.
Ini merupakan kewajiban menurut syari’at atas setiap muslim, tidak boleh menceritakan kemaksiatan-kemaksiatan berdasarkan sabda Nabi n :
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنْ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ
Semua umatku akan diampuni (atau: tidak boleh dighibah) kecuali orang yang melakukan kemasiatan dengan terang-terangan. Dan sesungguhnya termasuk melakukan kemasiatan dengan terang-terangan adalah seseorang melakukan perbuatan (kemaksiatan) pada waktu malam dan Allah telah menutupinya (yaitu tidak ada orang yang mengetahuinya-pent), lalu ketika pagi dia mengatakan: “Hai Fulan, kemarin aku melakukan ini dan itu”. Padahal di waktu malam Allah telah menutupinya, namun ketika masuk waktu pagi dia membuka tirai Allah terhadapnya”. (HR. Bukhari, no. 6069; Muslim, no. 2990-pent)

Menceritakan dosa-dosa memiliki banyak kerusakan-kerusakan, bukan di sini perinciannya. Di antaranya, mendorong untuk berbuat maksiat di tengah-tengah hamba dan menyepelekan perintah-perintah Allah Ta’ala. Barangsiapa menyangka, menyembunyikan dosa-dosa merupakan riya’, dan menceritakan dosa-dosa merupakan keikhlasan, maka orang itu telah dirancukan oleh syaithan. Kita berlindung kepada Allah darinya.

5-Seorang hamba yang meraih ketenaran dengan tanpa mencarinya.
Al-Maqdisi berkata: “Yang tercela adalah seseorang mencari ketenaran. Adapun adanya ketenaran dari sisi Allah Ta’ala dengan tanpa usaha manusia mencarinya maka itu tidak tercela. Namun adanya ketenaran itu merupakan cobaan terhadap orang-orang yang lemah (imannya-pent)”. (Mukhtashar Minhajul Qashidiin, hlm. 218)
Al-hamdulillahi rabbil ‘alamiin.
Baca Selengkapnya...

IMAN KEPADA QADAR BAIK DAN BURUK

IMAN KEPADA QADAR BAIK DAN BURUK

Abu Hamzah al-Sanuwi
Agus Hasan Bashori, Lc, M.Ag

Kita mempercayai qadar baik dan buruk. Yang demikian adalah ketentuan Allah -Subhanahu wa ta'ala- bagi alam yang ada ini sesuai dengan pengetahuan dan ketentuan Allah -Subhanahu wa ta'ala- serta hikmah-hikmah yang ditetapkan-Nya.

Qadar itu ada empat peringkat:

1. Ilmu
kita mempercayai, bahwa Allah -Subhanahu wa ta'ala- itu mengetahui segala sesuatu. Dia mengetahui apa yang telah terjadi, apa yang akan terjadi, dan bagaimana kejadiannya. Itu semua diketahui Allah dengan ilmu-Nya yang azali dan abadi. Pengetahuan Allah tentang segala sesuatu tidaklah baru dan tidak didahului oleh ketidaktahuan. Dia tidak pula bersifat lupa karena keabadian ilmu-Nya yang tidak berawal dan tidak berakhir.

2. Kitabah
Kita mempercayai bahwa Allah -Subhanahu wa ta'ala- telah menulis segala sesuatu yang terjadi sampai hari kiamat di lauh mahfuzh, firman Allah dalam al-Qur’an:

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالأَّرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابِ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيْرٌ[ الحج:70 ]

“Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, bahwasannya yang demikian itu terdapat dalam bentuk kitab (lauh mahfuzh), sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (al-Hajj: 70)

3. Masyi’ah
Kita mempercayai bahwa Allah -Subhanahu wa ta'ala- telah menentukan segala sesuatu baik di langit maupun di bumi sesuai dengan masyi’ah (kehendak) Nya. Segala sesuatu terjadi karena kehendak Allah. Jika Allah menghendaki, dia akan terjadi, kalau Allah tidak menghendaki, maka dia tidak akan terjadi.

4. Al-Khalq (penciptaan).
Kita mempercayai bahwa Allah -Subhanahu wa ta'ala- adalah pencipta segala sesuatu. Sebagaimana firman-Nya:

اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلَ ! لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ[ الزمر: 62-63]

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Kepunyaan-Nya lah perbendaharaan langit dan bumi.” (al-Zumar: 62-63)

Keempat peringkat ini mencakup apa yang dari Allah dan apa yang dari hambanya. Maka segala sesuatu yang dilakukan hambanya, baik perkataan maupun perbuatan dan apa yang tidak dilakukan, semua itu diketahui oleh Allah -Subhanahu wa ta'ala- dan telah tertulis di sisi-Nya dan dikehendaki-Nya serta diciptakan-Nya.

Firman Allah -Subhanahu wa ta'ala-
لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيْمَ ! وَمَا تَشَاؤُوْنَ إِلاَّ أَنْ يَشَاءَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ[ْ التكوير: 28-29]

“(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila kalau dikehendaki Allah Tuhan semesta alam.” (at-Takwir: 28-29)

Dan firman Allah:
وَلَوْ شَاءَ اللهُ مَا اقْتَتَلُوْا وَلَكِنَّ اللهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ [ البقرة::253 ]

“Seandainya Allah menghendaki tidaklah mereka berbunuh-bunuhan, akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (al-Baqarah: 253)

Dan firman Allah:
وَلَوْ شَاءَ اللهُ مَا فَعَلُوْهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُوْنَ[ الأنعام:137 ]

“Dan jika Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakan, dan tinggallah mereka dan apa-apa yang mereka ada-adakan.” (al-An’am: 137)

Dan firman Allah:

وَاللهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ[ الصافات: 96 ]
“Padahal Allah lah yang menciptakan kamu dan segala yang kamu kerjakan.” (al-Shaffat: 96)

Di samping kita meyakini, bahwa Allah -Subhanahu wa ta'ala- memberikan ikhtiar (kebebasan berbuat atau tidak berbuat) dan qudrah (kemampuan) bagi hamba-Nya untuk melakukan sesuatu perbuatan. Dalil bahwa perbuatan manusia adalah atas ikhtiar dan qudrahnya sendiri adalah firman Allah, antara lain:

Pertama:
فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ[ البقرة: 223 ]

“Maka datangilah ladang tempat engkau bercocok tanam itu sebagaimana kamu kehendaki.” (al-Baqarah: 223)

وَلَوْ أَرَادُوا اْلُخُرُوْجَ َلأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً[ التوبة: 46 ]
“Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu.” (al-Taubah: 46)

Maka Allah -Subhanahu wa ta'ala-, dalam ayat di atas, menetapkan bahwa seorang hamba berhak mendatangi ladangnya (istrinya) sesuai kehendaknya dan boleh mengadakan persiapan sesuai kemauannya.

Kadua: Memberikan perintah atau larangan kepada hamba adalah berdasarkan pertimbangan adanya ikhtiar (kebebasan berbuat atau tidak berbuat) dan qudrah (kemampuan) hamba, berarti Allah memberikan perintah atau larangan kepada hamba untuk sesuatu yang tak mungkin dilaksanakan atau ditinggalkan (karena tak ada ikhtiar dan qudrah pada hamba tersebut), dan ini pasti mustahil bagi Allah swt, karena bertentangan dengan hikmah dan rahmah Allah.

Allah berfirman:
وَلاَ يُكَلِّفُ اللهُ إِلاَّ وُسْعَهَا[ البقرة: 286 ]

“Dan Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (al-Baqarah: 286)

Ketiga: Pujian bagi yang berbuat baik dan celaan bagi yang berbuat jahat, serta memberikan balasan masing-masing sesuai dengan perbuatan mereka. Sekiranya suatu perbuatan terjadi bukan atas kehendak dan ikhtiar manusia, tidaklah ada artinya pujian dan celaan atau hukuman itu, pujian bagi orang yang berbuat baik akan berarti main-main (sia-sia) dan celaan serta hukuman bagi yang berbuat jahat akan berarti penganiayaan. Dan suatu yang tidak ada artinya (sia-sia) dan mengandung penganiayaan tentu mustahil bagi Allah -Subhanahu wa ta'ala-.

Keempat: Allah mengutus para Rasul-Nya untuk memberi kabar gembira dan peringatan.
Firman Allah:

رُسُلًا مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِريْنَ لِئَلاَّ يَكُوْنَ لِلنَّاسِ عَلَى اللهِ حُجَّةً بَعْدَ الرَّسُلِ [النساء:165 ]

“(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.” (al-Nisa: 165)

Kalau perbuatan manusia terjadi tidak atas kehendak dan ikhtiarnya tentu kerasulan itu tidak dapat menjadi hujjah atas mereka.

Kelima: Setiap orang dalam berbuat sesuatu atau tidak melakukan sesuatu, merasa tidak ada yang memaksanya. Dia berdiri semaunya, dia duduk, masuk, dan keluar, dia berjalan atau tidak berjalan atas kemauannya sendiri, dan tidak merasakan ada seseorang yang memaksanya melakukan itu semua. Dia dapat membedakan antara perbuatan yang dilakukan karena dipaksa orang lain dan perbuatan atas kemauan sendiri. Begitu juga agama Islam, ia membedakan dengan penuh kebijaksanaan antara orang yang berbuat secara terpaksa dan yang berbuat dengan kehendaknya, yaitu dengan tidak menindak orang yang karena terpaksa ia melanggar hal-hal yang berkenaan dengan hak Allah.

Dengan demikian, tidak benar alasan orang yang berbuat maksiat bahwa perbuatan itu sudah merupakan taqdir Allah atas dirinya, karena ia melakukan maksiat itu dengan kehendaknya tanpa ia ketahui bagaimana qadar Allah atas dirinya dan tak seoranngpun tahu apa qadar Allah kecuali sesudah terjadi. Allah -Subhanahu wa ta'ala- berfirman:

وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَا ذَا تَكْسِبُ غَدًا[ لقمان: 34 ]
“Dan tidak seorang pun mengetahui dengan pasti apa yang akan dikerjakannya esok.” (Luqman: 34)

Maka, tidaklah dibenarkan oleh akal sehat seseorang beralasan dengan qadar (taqdir) yang hal itu tidak diketahuinya saat berani melakukan suatu perbuatan. Allah membatalkan cara-cara beralasan yang demikian dalam firman-Nya:

سَيَقُوْلُ الَّذِيْنَ أَشْرَكُوْا لَوْ شَاَء اللهُ مَا َأشْرَكْنَا وَلاَ آَبَاؤُنَا وَلاَ حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّى ذَاقُوْا بَأْسَنَا قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ ِعلْمٍ فَتَخْرُجُوْهُ لَنَا إِنْ تَتَّبِعُوْنَ إِلاَّ الَّظنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلاَّ تَخْرُصُوْنَ[ الأنعام: 148 ]
“Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan akan berkata: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukannya dan tidak pula kami mengharamkan barang sesuatu apapun”, Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan para rasul sampai mereka merasakan siksaan kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehinggaa dapat kamu kemukakan kepada kami. Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tiada lain hanyalah berdusta.” (al-An’am: 148).

Kita dapat mengatakan kepada orang-orang yang berbuat maksiat dengan alasan sudah taqdir Allah: “Mengapa kalian tidak melakukan perbuatan taat dengan alasan itu juga sudah taqdir Allah -Subhanahu wa ta'ala-? Sebab, tidak ada bedanya antara perbuatan taat dan maksiat yang belum jelas taqdirnya sebelum engkau lakukan. Untuk itulah tatkala Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- bersabda kepada para sahabatnya bahwa setiap pribadi telah ditentukan tempatnya apakah di syurga atau di neraka, maka salah seorang sahabat bertanya: “Kalau begitu kita pasrah saja kepada qadar yang tertulis itu dan tidak usah berbuat?”, Maka rasulullah menjawab: “Jangan, kamu harus berbuat. Dan masing-masing akan digiring menuju ketentuan yang telah digariskan oleh Allah.”

Demikian juga dapat kita katakana kepada orang yang berbuat maksiat dengan alasan sudah taqdir, bahwa anda bermaksud pergi ke Makkah, dan untuk ke Makkah itu ada dua jalan, anda diberitahu oleh orang yang jujur terpercaya, bahwa jalan yang satu sulit dan menghawatirkan, dan yang satu lagi jalan yang mudah dan aman, maka dalam hal itu pasti anda akan memilih jalan yang mudah dan aman.

Dalam hal ini, jika anda sengaja pilih jalan yang sulit dan menghawatirkan lalu anda mengatakan bahwa jalan inilah yang ditaqdirkan buat anda, tentu anda akan di-cap sebagai orang yang gila.

Sebagaiman jika kepada anda ditawarkan dua jabatan, yang satu kedudukan yang baik dan gaji besar, dan yang satu lagi jabatan yang rendah dan gaji kecil, maka pastilah anda akan memilih pekerjaan yang bergaji besar, dan anda tidak akan memilih pekerjaan yang bergaji kecil. Lalu, mengapa anda, untuk amal akhirat, memilih untuk anda sendiri hal yang rendah nilainya dan kemudian anda berkata, bahwa inilah taqdir (qadar) yang telah ditentukan.

Demikian pula halnya dengan sakit jasmani yang anda derita. Pastilah anda akan mengetuk pintu setiap dokter untuk mengobati anda dan anda sabar atas pengobatannya itu, dan, jika perlu dilakukan operasi sekalipun, anda juga sabar. Dan betapapun pahitnya obat yang harus anda telan, andapun sanggup menelannya. Maka, mengapa hal itu tidak anda lakukan dalam mengobati penyakit hati anda oleh sebab maksiat?!

Sebab itu kita mempercayai, bahwa segala kejahatan dan hal-hal yang tidak baik itu tidak dapat dinisbatkan kepada Allah -Subhanahu wa ta'ala-. Karena Allah penuh rahmad dan kasih saying serta sempurna hikmah kebijaksanaan-Nya. Sebagaiman dikatakan oleh Nabi kita Muhammad -Shalallahu alaihi wa salam- dalam sebuah do’a istiftah beliau:

( وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ) رواه مسلم
“Kejahtan dan keburukan tidaklah dinisbatkan kepada Engkau.” (HR. Muslim)

Qadha (ketentan) Allah itu sendiri tidaklah buruk, karena, qadha Allah itu datang dari rahmat dan hikmah dari Allah. (kita tidak mengetahui apa hikmah yang sebenarnya dari qadha Allah yang ditetapkan bagi kita).

Hal yang buruk itu adanya pada ketentuan yang terjadi. Sebagaimana disebutkan dalam do’a yang diucapkan Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- di waktu membaca do’a qunut:

( وَقِنِيْ شَرَّ مَا قَضَيْتَ)
“Dan jauhkanlah aku dari keburukan apa yang telah Engkau tentukan.”

Hal yang tidak baik itu bukanlah semata-mata tidak baik secara keseluruhan, tetapi dari sisi lain, mungkin ada baiknya. Keruskan di atas permukaan bu,mi yang berbentuk ketandusan, kelaparan dan rasa takut adalah hal yang tidak baik, tetapi dari segi lain ada kebaikan. Sebagaiman firman Allah:

ظَهَرَ الْفَسَادَ فِي اْلَبِّر وَاْلبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاِس لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ[ الروم: 41 ]

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (ar-Rum: 41)

Pemberian hukuman potong tangan kepada pencuri dan hukuman rajam bagi pezina adalah sesuatu yang buruk bagi mereka, karena mereka kehilangan tangan dan nyawa. Tetapi, dari segi lain adalah baik baginya karena hukuman itu menjadi kafarat (penghapus dosanya). Dengan demikian, mereka tidak diadzab lagi di hari kemudian, karena mereka tidak akan menerima dua adzab dalam satu perbuatan (hukuman dunia dan hukuman akhirat). Di samping itu, dari sisi lain juga merupakan kebaikan, karena di dalamnya terdapat upaya untuk menjaga harta dan memelihara kehormatan dan keturunan.

Malang, 1 Januari 2003
Sumber : http://id.qiblati.com/artikel/aqidah/id/14
Baca Selengkapnya...
Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template